Jumat, 27 Maret 2020

ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA DAN BERSASTRA

ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA DAN BERSASTRA

Rangkuman 

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran BI
Semester VI

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd



Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017-B


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan

ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA DAN BERSASTRA
Salah satu keterampilan berbahasa yang bisa dijadikan asesmen adalah keterampilan mendengarkan atau menyimak. Hal ini lantaran banyaknya komunikasi sehari-hari yang dilakukan secara lisan. Kemampuan mendengarkan bukan hanya kemampuan untuk mengenal dan membedakan bunyi bahasa saja, juga mendengarkan terkait dengan kemampuan untuk memahami makna suatu bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan. 

Penyusunan asesmen kemampuan memndengarkan yang menyangkut aspek kognitif hendaknya dibuat secara berjenjang. Tingkat asesmen kemampuan mendengarkan dimulai dengan asesmen kemampuan mendengarkan pada tingkat ingatan,, diikuti dengan asesmen kemmapuan mendengarkan tingkat pemahaman, asesemen mendengarkan ingkat openerapan, asesmen mendengarkan tingkat analisis, asesmen mendengarkan tingkat sintesis, dan asesmen mendengarkan tingkat evaluasi. Adapun bentuk asesmen mendengarkan yang bisa dilakukan diantaranya identifikasi peristiwa atau kejadian, identifikasi tema cerita, identifikasi topik percakapan, menjawab pertanyaan, dan sebagainya. 

Selanjutnya adalah asesmen keterampilan berbicara. Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Sebagai bagian dari kemmapuan berbahasa yang aktif-produktif, kemampuan berbicara menuntut penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa. Dalam tes keterampilan berbicara yang mementingkan isidan makna dalam penyampaian pesan secara lisan, berbagai bentuk dan cara  dapat digunakan. Bentuk pengajaran berbicara dapat bersifat terkendali dengan isi dan jenis wacana yang dtentukan atau dibatasi, atau dapat bersifat bebas bergantung pada keinginan dan kreativitas pembaca. pengajaran tersebut diantaranya berbicara singlet berdasarkan gambar, wawancara, menceritakan kembali, dan sebagainya.

Selain mendengarkan dan berbicara, keterampilan berbhasa selanjutnya adalah membaca. Program pembelajaran membaca bertujuan untuk menambha kecepatan dan memperbaiki pemahaman, mengajar siswa bagaimana mnegadaptasi membaca dengan variasi bahan bacaan, dan menuntut siswa mngembangkan diri melalui membaca dalam jumlah yang banyak. Intinya, pembelajaran membaca dapat pada proses membaca itu sendiri, dan dapat pula pada hasil yang dicapai melalui kegiatan  membaca tersebut. Jenis-jenis membaca yang bisa dilakukan antara lain, membaca literal, membaca interpretatif, dan membaca kreatif/kritis.

Keterampilan berbahasa yang terakhir adalah menulis. Untuk mnegetahui kemampuan menulis seseorang diperlukan adanya asesmen dengan menggunakan alat ukur tes menulis. Tes menulis dapat dilakukan denagn bebrapa pendekatan, antara lain pendekatan diskret, pendekatan integrative, dan pendekatan pragmati atau komunikatif. Seperti halnya kemampuan berbicara, tidak mudah untuk melkaukan perbedaan kemmapuan menulis ke dalam tingkatan-tingkatan kognitif.  Asesmen kemampuan menulis dapat dibuat dalam beberapa bentuk, diantaranya tes unsure-unsur kemampuan menulis, menulis reproduksi, dan menulis produksi.

Selain keterampilan berbahasa, ada juga asesmen dalam aspek kesastraan. Asesmen penguasaan aspek kesustraan dapat disusun secara bertingkat mylai dari tingkat ingatan sampai evaluasi. Penilaian unjuk kerja siswa sebagai hasil pemebelajaran juga dilakukan melalui keempat kemampuan bahasa tersebut, baik secara aktif-reseptif maupun aktif-produktif. Adapun keterampilan-keterampilan yang bisa digubakkan untuk asesmen kesusastraan diantaranya asesmen keterampilan mendengarkan, asesmen keterampilan berbicara, asesmen keterampilan membaca, dan asesmen keterampilan menulis. 

Jumat, 20 Maret 2020

JENIS ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

JENIS ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran BI
Semester VI

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd


Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017-B


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan


JENIS ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
Menurut Bown (2004: 5-6), asesmen dapat digolongkan menjadi dua klasifikasi, yaitu asesmen formal dan asesmen informal seta asesmen formatif dan sumatif.  Selain kedua kelompok asesmen tersebut, Brown juga membagi asesmen menjadi dua, yaitu asesmen tradisional yang befokus pada eksplorasi pengetahuan. Kedua, asesmen alternatif/otentik yang berfokus pada ekslplorasi keterampilan, diantaranya menulis, membaca, partisipasi peserta didik pada saat pembelajaran di dalam kelas, dan sebagainya. 

Mengacu pada uaian tersebut, asesmen bisa berupa tes maupun nontes. Kedua alat ini dapatkan digunakan untuk memndapatkan informasi tentang subjek secaa tepat jika penggunaannya digunakan secara tepat. Tes merupakan suatu cara untuk mengadakan evaluasi yang berbentuk tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes. Berdasarkan kriteria cara mengarjakan, tese dibagi menjadi tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan. 

Adapun jenis asesmen apabila dilihat dari cara menjawab tes, dibedakan atas tes objektif dan tes non-objektif. Tes bahasa objektif adalah tes bahasa yang cara menjawab pertanyaan-pertanyaan pada tes semata-mata dinyatakan dengan  memilih salah satu altenatif jawaban yang disediakan. Tes objektif memiliki kelemahan, yaitu peserta didik tidak bisa berkembang. Sedangkan tes non-objektif adalah tes bahasa yang cara menjawab pertanyaan-pertanyaan pada tes dengan  menyebutkan dan menjelaskan berupa hal-hal yang sedang dipelajai. Keuntungan menggunakan tes ini adalah siswa mampu mengembangkan potensi sekaligus melatih mental untuk menjadi siswa yang proaktif. 

Selain kedua model diatas, asesmen pembelajaran bahasa juga bisa menggunkaan teori Takksonomi Bloom yang menyangkut tiga anah, yaitu anah kognitif, anah afektif, dan ana psikomotooik. Ranah kognittif mencakup segala uapaya yang menyangkut upaya aktivitas otak teemasuk anah proses berpikir. Ada enam jenjang yang harus dipehatikan dalam proses berpikir, diantaranya pengetahuan, pemahaman, aplikasi, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. anah afektif bekenaan dengan sikap dan nilai dalam bebeapa kategori, seperti menerima, ,menanggapi, penilaian, mengoganisasikan, dan karakteristik nilai. Sedangkan ranah psikomo memncakup sesuatu yang  berhubungan dengan aktivitas otak, fisik, gerakan-gerakan anggota badan.

Informasi tentang hasil belajar siswa tidak hanya diperoleh melalui tes, tetapi juga bisa dilakukan melalui asesmen non-tes, salah satunya asesmen unjuk kerja/perfommance. Aesesmen ini cocok digunakan untuk meniali ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukuan tugas tertentu berbentuk praktek. Kedua, asesmen portofolio, asesmen yang diperoleh melalui proses pembuatan karya. Ketiga, asesmen proyek, yang merupakan penialaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Asesmen ini mencakup perencanaan, proses pengajaran, dan hasil akhir proyek. 

Asemen non-tes juga bisa dilakukan dengan menggunkan ases produk. Penialian ini menkanakan pada hasil kerja siswa, yaitu pada penialaian terhadap penguasaan siswa akan suatu keterampilandalam membuat sesuatu hasil kerja. Selanjutnya ada asesmen diri (self assessment), yaiitu teknik penilaian dimana peserta didik diminta untuk menialai dirinya sendiri berkenaan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian kompetensi. Terakhir adalah asesmen sikap, yaitu penilaian yang cenderung untuk bertindak suak atau tidak suka terhadap suatu objek.