Kamis, 25 April 2019

TINDAK TUTUR DAN PERISTIWA TUTUR


TINDAK TUTUR DAN PERISTIWA TUTUR
Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd




Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PASURUAN 2019

TINDAK TUTUR DAN PERISTIWA TUTUR
Tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Sebekum membahasa tindak  tutur, terlebih dahulu mengenali jenis-jenis kalimat menurut tata bahasa tradisional, yaitu kalimat deklaraftif, kalimat interogatif, dan kalimat imperatif. Pembagaian kalimat tersebut dibedakan berdasarkan bentuk kalimat secara terlepas. Sedangkan Austin membedakan deklaratif beradsarkan maknanya menjadi kalimat konstatif dan kalimat performatif. Kalimat konstatif berisi pernyataan belaka, sedangkan kalimat performatif merupakan kalimat yang berisi perlakuan.

Kalimat performatif dapat dibagi atas situasi resmi dan tidak resmi. Kalimat performatif dapat juga digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang bersifat implisit maupun eksplisit. Secara eksplisit berarti menghadirkan kata-kata yang mengacu pada pelaku. Sedangkan yang dimaksud dengan kalimat performatif yang implisit adalah kalimat yang tanpa menghadirkan kata-kata yang menyatakan pelaku.

Sementara itu, Austin membagi kalimat performatif menjadi lima kategori, yaitu kalimat verdiktif, kalimat eksersitif, kalimat komisif, kalimat behatitif, dan kalimat ekspositif. Kalimat verdikatif yaitu kalimat perlakuan yang menyatakan keputusan atau penialaian. Sedangkan yang dimaksud dengan kalimat eksersitif merupakan kalimat perlakuan yang menyatakan perjanjian, nasihat, peringatan, dan sebagainya. Kalimat komisif berarti kalimat perlakuan yang dicirikan dengan perjanjian; pembicara berjanji pada Anda untuk melakukan sesuatu. Semenatra yang dimaksud dengan kalimat behatitif adalah kalimat perlakuan yang berhubungan dengan tingkah laku sosial karena seseorang mendapat keberuntungan atau kemalangan. Adapaun yang dimaksud dengan kalimat ekspositif merupakan kaliamt perlakuan yang memberikan penjelasan, keterangan, atau perincian.

Austin merumuskan tindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat performatif sebagai tiga peristiwa tindakan yang berlangsung seklaigus, anatara lain tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindak tutur lokusi merupakan tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti terbatas, atau tindak tutur dalam kalimat yang bermakna dan dapat dipahami. Sementara itu, yang dimaksud dengan kalimat ilokusi yaitu tindak tuutr yang biasanya didentifikasikan dengan kalimat performatif eksplisiti. Adapun yang dimaksud dengan tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berkaitan dengan ucapan oranglain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistik dari orang lain.  

Sementara itu, yang dimaksud dengan peristiwa tutur yaitu terjadinya aatu berlangsungnya interaksi lingusitik dalam satu bentuk ujaran atau lebiih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan mitra tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam, tempat, dan situasi tertentu. Terjadinya peristiwa tutur harus memenuhi beberapa hal, diantaranya temaoat dan suasana tutur, peserta tutur, tujuan tutur, pokook tuturan, nada tutur, sarana tutur, norma tutur, dan jenis tuturan.

Kamis, 18 April 2019

KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR


KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR

Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd





Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PASURUAN 2019

KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR
Implikatur merupakan percakapan yang mengandung proporsi tersirat. Implikatur memmiliki fungsi pragmatis terselebung yang keberadaannya terimplikasi dari tuturan yang sebenarnya. Fungsi implikatur secara keseluruhan terbagi menjadi lima kategori, yaitu menyatakan, menyuruh, memuji, berjanji, dan membatalkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan implikatur, diantaranya adalah implikatur bukan merupakan bagian dari tuturan, implikatur bukan akibat logis dari tuturan, dan sebuah tuturan memungkinkan memiliki lebih dari satu implikatur dan itu bergantung pada konteksnya.
Implikatur secara umum dibagi menjadi dua macam, yaitu implikatur non konvensional (implikatur percakapan) dan implikatur konvensional (implikatur non percakapan). Impliaktur percakapan diderifasi berdasarkan maksim percakapan. Sedangkan implikatur non percakapan diderifasi berdasarkan konvensi-konvensi tertentu.Implikatur non percakapan dimarkahi oleh penanda-penanda tertentu, seperti itu, oh, dan sebagainya.
Implikatur juga memberikan makna yang berkebalikan dari bentuk ujarannya. Meski implikatur bentuk mempunyai makna berkebalikan, akan tetapi tidak menimbulkan pertentangan logika. Dalam tuturan implikatif, penutur dan lawan tutur harus mempunyai pengalaman yang sama sesuai dengan konteks. Jika tidak, maka akan terjadi kesalahpahaman atas tuturan yang terjadi diantara keduanya. Dlam hubungan timbal-balik di konteks budaya kita, penggunaan implikatur terasa lebih sopan, misalnya untuk tindak tutur menolak, menegur, dan lain-lain. Tindak tutur yang melibatkan emosi mitra tutur pada umumnya lebih diterima jika disampaikan dengan implikatur.
Kemampuan untuk memahami implikatur dalam sebuah tuturan tergantung pada kompetensi linguistik yang dikuasai seseoramg. Seorang penutur tidak mungkin menguasai seluruh unsur bahasa karena kompetensi linguistik seseorang itu terbatas. Namun dengan keterbatasan ini, seorang penutur mampu menghasilkan ujaran yang tidak terbatas. Seorang penutur dan lawan tutur akan mampu memahami dan menghasilkan ujaran baru yang benar-benar baru dalam bahasanya.

Kamis, 04 April 2019

REFERENSI DAN INFERENSI


REFERENSI DAN INFERENSI

Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd





Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PASURUAN 2019

REFERENSI DAN INFERENSI
Referensi sebagai suatu tindakan dimana seorang penutur, atau penulis, menggunakan bentuk linguistik untuk memungkinkan seorang pendengar atau pembaca mengenali sesuatu. Bentuk-bentuk linguistik itu adalah ungkapan-ungkapan pengacuan, yang mungkin berupa nama diri, frasa nomina tertentu, atau frasa nomina tidak tentu. Jdi, referensi dengan jelas teerkait dengan tujuan penutur dan keyakinan penutur dalam pemakain bahasa. Agar terjadi referensi yang sukses, maka alangkah baiknya jika terlebih dulu mengenali peran inferensi.

Tidak semua ungkapan acuan memiliki refren fiisk yang dapat dikenali. Frasa nomina tidak tentu dapat dipakai untuk mengenali suatu entitas yang ada secara fisik, tetapi ungkapan-ungkapan itu juga dapat dipakai untuk menjelaskan entitas-entitas yang diasumsikan ada, tetapi tidak dikenal, atau entitas-entitas yang tidak diketahui. Sebuah perbedaan yang sama dapat ditenukan pada frasa nomina tertentu. Pokok dari perbedaan ini adalah bahwa ungkapan-ungkapan itu sendiri tidak dapat diperlakukan seperti memiliki referensi, tetapi ditanamkan atau tidak ditanamkan fungs referensial di dalam sebuah konteks oleh seorang penutur atau penulis.

Referensi jarus memuat suatu maksud dasar untuk menegnali dan suatu kerja sama pengenalan tujuan dilapangan. Proses ini tidak hanya membutuhkan kerja antara seorang penutur dan seorang pendengar. Akan tetapi, proses ini tampaknya berfungsi, dalam istilah-istilah kaidah, antara seluruh masyarakat yang memiliki secraa bersama-sama suatu bahasa dan budaya umum. Ungkapan-ungkapan ini merupakan pengalaman sehari-hari dari penerapan yang sukses terhadap kaidah yang mungkin meyebabkan adanya asumsi bahwa ungkapan-ungkapan pengacuan haya dapat menunjuk pada entitas-entitas yang sangat khusus.

Kemmapuan untuk mengenali referen yang dimaksud sebenarmya lebih banyak bergantung pada pemahaman tentang ungkapan-ungkapan pengacuan. Kemampuan mengenali refren telah dibantu oleh materi linguistik, atau koteks, yang menyertai ungkapan pengacuan itu. Ko-teks adalah suatu bagian lingkungan linguistik dimana ungkapan pengacuan dipakai. Sementara lingkungan fisik atau konteks lebih dikenali karena memiliki pengaruh yang kuat tentang bagaimana ungakpan pengacuan itu harus diinterpretasikan.