Jumat, 20 Maret 2020

JENIS ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

JENIS ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran BI
Semester VI

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd


Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017-B


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan


JENIS ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
Menurut Bown (2004: 5-6), asesmen dapat digolongkan menjadi dua klasifikasi, yaitu asesmen formal dan asesmen informal seta asesmen formatif dan sumatif.  Selain kedua kelompok asesmen tersebut, Brown juga membagi asesmen menjadi dua, yaitu asesmen tradisional yang befokus pada eksplorasi pengetahuan. Kedua, asesmen alternatif/otentik yang berfokus pada ekslplorasi keterampilan, diantaranya menulis, membaca, partisipasi peserta didik pada saat pembelajaran di dalam kelas, dan sebagainya. 

Mengacu pada uaian tersebut, asesmen bisa berupa tes maupun nontes. Kedua alat ini dapatkan digunakan untuk memndapatkan informasi tentang subjek secaa tepat jika penggunaannya digunakan secara tepat. Tes merupakan suatu cara untuk mengadakan evaluasi yang berbentuk tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes. Berdasarkan kriteria cara mengarjakan, tese dibagi menjadi tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan. 

Adapun jenis asesmen apabila dilihat dari cara menjawab tes, dibedakan atas tes objektif dan tes non-objektif. Tes bahasa objektif adalah tes bahasa yang cara menjawab pertanyaan-pertanyaan pada tes semata-mata dinyatakan dengan  memilih salah satu altenatif jawaban yang disediakan. Tes objektif memiliki kelemahan, yaitu peserta didik tidak bisa berkembang. Sedangkan tes non-objektif adalah tes bahasa yang cara menjawab pertanyaan-pertanyaan pada tes dengan  menyebutkan dan menjelaskan berupa hal-hal yang sedang dipelajai. Keuntungan menggunakan tes ini adalah siswa mampu mengembangkan potensi sekaligus melatih mental untuk menjadi siswa yang proaktif. 

Selain kedua model diatas, asesmen pembelajaran bahasa juga bisa menggunkaan teori Takksonomi Bloom yang menyangkut tiga anah, yaitu anah kognitif, anah afektif, dan ana psikomotooik. Ranah kognittif mencakup segala uapaya yang menyangkut upaya aktivitas otak teemasuk anah proses berpikir. Ada enam jenjang yang harus dipehatikan dalam proses berpikir, diantaranya pengetahuan, pemahaman, aplikasi, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. anah afektif bekenaan dengan sikap dan nilai dalam bebeapa kategori, seperti menerima, ,menanggapi, penilaian, mengoganisasikan, dan karakteristik nilai. Sedangkan ranah psikomo memncakup sesuatu yang  berhubungan dengan aktivitas otak, fisik, gerakan-gerakan anggota badan.

Informasi tentang hasil belajar siswa tidak hanya diperoleh melalui tes, tetapi juga bisa dilakukan melalui asesmen non-tes, salah satunya asesmen unjuk kerja/perfommance. Aesesmen ini cocok digunakan untuk meniali ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukuan tugas tertentu berbentuk praktek. Kedua, asesmen portofolio, asesmen yang diperoleh melalui proses pembuatan karya. Ketiga, asesmen proyek, yang merupakan penialaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Asesmen ini mencakup perencanaan, proses pengajaran, dan hasil akhir proyek. 

Asemen non-tes juga bisa dilakukan dengan menggunkan ases produk. Penialian ini menkanakan pada hasil kerja siswa, yaitu pada penialaian terhadap penguasaan siswa akan suatu keterampilandalam membuat sesuatu hasil kerja. Selanjutnya ada asesmen diri (self assessment), yaiitu teknik penilaian dimana peserta didik diminta untuk menialai dirinya sendiri berkenaan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian kompetensi. Terakhir adalah asesmen sikap, yaitu penilaian yang cenderung untuk bertindak suak atau tidak suka terhadap suatu objek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar