Rabu, 19 Desember 2018

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN


PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd



Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

Pengajaran (teaching) dan pembelajaran (learning) merupakan dua istilah yang dipakai untuk membedakan fokus aktivitas guru dan pembelajar di kelas. Sementara itu, istilah pembelajaran member fokus aktivitas lebih banyak dilakukan oleh pembelajar. Memang pembelajarn merupakan rekayasa. Aktivitas pembelajaran diberi porsi lebih besar atau lebih kecil yamg menentukan tetap saja guru. Semua itu menjadi paradigm baru dalam pembelajarn di sekolah. Peran dan fungsi guru dalam proses belajar yang berfokus pada pembelajar bukan lagi emnjadi satu-satunya sumber belajar, bukan lagi sebagai individu yang mengetahui semua hal.

Untuk memilih atau mengembangkan media agar dapat mendukung pengembangan kompetensi dasar pembelajar. Pada proses transfer pengetahuan diawali dengan penyerapan melalui indera manusia, yaitu mata, telinga, mulut, hidung, pera, perasa (lidah). Media yang kedua yaitu aneka macam media pembelajarn. Ada beberapa sifat-siaft media pembelajarn yang harus diketahui oleh seornag guru. Sifat-sifat itu diantranya, media berupa garis, gambar, gerak, tulisan dan suara. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, masing-masing semakin bertambah variasi.      

Setelah berbagai aspek yang berkaitan dnegan belajar-mengajar diidentifikasi, langkah selanjutnya yaitu mengidentifikasi jenis media yang akan digunakan. Media pembelajaran yang akan dikembangkan tentu harus sesuai dengan karakter media yang dipilih serta kesesuaian mmedia dengan materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, ketersediaan media ditempat pembelajar belajar. Seorang guru tidak boleh memilih media pembelajarn hanya atas dasar suatu pertimbangan tertentu sehingga akan mempersulit guru maupun proses belajar pembelajar.

Pembelajaran pada dasarnya ingin mengembangkan kompetensi belajar. Selama ini banyak pembelajaran yang hanya mengandalkan papan tulis dan kapur untuk menerangkan materi kepada peserta didik. padahal, media pembelajarn harus mampu membantu memudahkan penyerapan informasi dari ingatan jangka pendek ke jangka  panjang. Bagi guru yang tinggal di daerah perkotaan, media berbasis teknologi informasi (TI) sangat mnudah disediakan dan dimanfaatkan oleh guru. Namun, bagi sekolah yang belum memiliki fasilitas computer atau internet, media pembelajaran adapat dibuat oleh guru sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah yang ada.

PENDEKATAN, METODE, TEKNIK, DAN STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA


PENDEKATAN, METODE, TEKNIK, DAN STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd




Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

Guru sering dibingungkan maslaah pendekatan, metode, strategi dan teknik dalam mengajar. Pendekatan belajar bahasa harus memiliki dasar keyakinan tertentu, misalnya menguasai elemen-elemen bahasa, sesoranga akan dapat menggunakan elemen bahasa untuk berbahasa dengan baik dan benar. Sebaliknya, jika keyakinan seseorang mengenai hakikat belajar bahasa mengikuti pandangan kaum pragmatic, belajar bahasa adalah belajar komunikasi. Sebagai seorang gurur bahasa, mempunyai kebebesan untuk memilih pendekatan yang yang akan membantunya dalam proses pembelajaran, baik melalui pendekatan linguistik structural maupun komunikatif.

Masalah kedua yang dihadpai oleh guru ketika proses pembelajaran adalah maslaah metode. Metode merupakan rancang bangun pembelajaran yang satu sama lain tidak saling bertentangan untuk mencapai suatu tujuan. Atas dasar itu, seorang guru harus memilih metode yang dipandang tepat untuk mencapai tujuan. Dalam setiap PBI, guru dapat memilih banyak jalan untuk menentukan metode yang akan digunakan. Namun, guru memiliki kompetensi pedogoigs baik pasti akan memilih metode mana yang harus digunakan agar tujuan tercapai secara efektif dan efisien. Setelah itu guru dapat melalui teknik yang tepat untuk menjalankan emtode yang sudah dipilih. Yang terakhir guru menyiapkan strategi yang tepat agar bangun rancang yang telah dibuat bisa tercapai.

Komponen utama dalam PBI adalah guru, pembelajar, dan materi. Artinya, PBI yang utama adalah guru mengajarkan materi kepada pembelajar. Selain komponen utama tersebut, proses belajar mengajar (PBM) masih didukung komponen alin, yaitu pendekatan, metode, reknik, dan strategi. Penerapan komponen pokok maupun komponen pendukung yang paling hakiki dalam pembelajaran adalah tercapainya kompetensi pembelajar. Sebagai penanda berkembangnya kompetensi pembelajar adalah terserapnya informasi ke dalam ingatan jangka panjang pembelajar. Namun, tentu prosesnya diawali dengan terserapnya informasi ke dalam jangka pendek.

Diantara komponen pendukung yang selama ini banyak mendapat perhatian adalah amslaah metode pembelajaran bahasa. Terutama metode yang mempu mengembangkan pikiran pembelajar untuk berpikir kreatif dan inovatif. Diantara metode itu adalah meode koopertif, teknik yang digunakan dalam metode ini antara lain mencari pasangan, bertukar pasanagn.,  jigsaw, dan paired strorytelling. Metode kedua yaitu pembelajarn berbasis maslaah (PBM). Adapun langkah-langkah yang bisa digunakan dalam metode ini antaralain memilih maslah secara tepat beserta situasinya dan memilih masalah secara tepat beserta situasinya.


Kamis, 13 Desember 2018

PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA


PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd



Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, harusanya guru sudah akrab dengan materi yang akan diajarkan. Adapun kurikulum dan teorinya pembelajaran bahasa mencakup empat keterampiln, diantaranya mendnegarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Selain aspek materi, guru juga harus terbiasa dengan metode, media, strategi, dan teknik yang harus digunakan dalam pembelajaran. Meskipun seluruh perangkat pembelajaran sudah biasa dilakukan oleh guru, pada kenyataannya masih ada guru yang belum memahami pembelajaran di kelas. Untuk melaksanakan itu, guru harus memiliki kompetensi pedagogis, kompetensi professional, kompetensi kepribadian, serta kompetensi sosial. Adapun masalah yang sering dihadapi guru dalam kegiatan pembeljaran adalah memilih atau mennetukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang tepat sesuai dengan tujuan.

Salah  satu suubstansi bahan ajar yang perlu diperhatikan adalah teori yang sudah mapan dan keberadaannya tidak lagi terbantah. Selain itu, ada juga teori yang sudah hangat dibicarakan tetapi sudah cenderung untuk diterima sebagai kebenaran. Yang terakhir adalah fenomena-fenomena baru yang sedang menjadi isu mutakhir, tetapi dapat merangsang tumbuhnya berpikir pembelajar.

Langkah-langkah pemilihan bahan ajar dimulai dengan pembagian berdasarkan kriteria, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Selanjutnya menentukan langkah pemilihan bahan ajar, yaitu mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. setelah itu mengidentifikasi jenis-jenis materi ajar. Dilanjut dengan memilah bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi. Langkah terakhir yaitu, memilih sumber bahan ajar.

Tercapainnya pengajaran dia dalam kelas, juga harus menentukan cakupan dan urutan bahan ajar. Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus diperhatikan jenis materi. Selain memperhatikan jenis materi pembelajaran juga harus memperhatikan prinsip-rinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya. Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan (adequency). Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai, sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang dicapai.

Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu pendekatan prosedural dan hierarkis. Sementara itu, dalam mencari sumber bahan ajar, pembelajar dapat dilibatkan untuk mencarinya. Adapun yang harus dicari adalah buku tes, laporan hasil penelitian, jurnal, pakar bidang studi, profesional, buku kurikulum, terbitan berkala, internet, media audiovisual, dan lingkungan. Adapun strategi yang bisa digunakan adalah menghafal, menggunakan/mengaplikasikan (use), menemukan dan memilih materi. Sementar itu, untuk memperdalam bahan ajar bahasa Indonesia, bisa melalui keterampilan berbahasa, diantaranya keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Kamis, 06 Desember 2018

CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PBI


CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PBI

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd


Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

Contextual teaching and learning (CTmenggunakan L) atau belajar dan mengajar beradasarkan pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, dan yang berhubungan dengan diri pembelajar. Tujuan CTL dibangun adalah untuk perkembangan pikiran pembelajar sesuai dengan perkembangan. Pembelajar harus dighapkan dengan realita yang ada disekitarnya untuk memahami konsep teoritis dan akademis. Oleh karenanya, stratefi dalm CTL harus berfokus pada pembelajaran berabsis masalah, menggunakan konteks yang beragam, mempertimbangkan kebhinekaan pembelajar, membelajarkan pembelajar untuk belajar secara mandiri, belajar melalui kolaborasi, menggunakan penilaian otentik, dan mengajar standar tinggi. Agar mendapatkan hasil optimal, CTL harus mampu memanfaatkan berbagai metode yang variatif, sealamiah mungkin, ienteraksi personal, dan evaluasi autensitas.

Pembelajaran berdasarkan pendekatan kontekstual ingin membangun pemikir-pemikir kritis dan kreatif. Model CTL diharapkan mampu menciptakan siswa yang mampu mengidentifikasi masalah, mampu menentukan sudut pandang, mampu menunjukan masalah, mampu mengemukakan asumsi-asumsi, mampu menggunakan bahasa yang jelas, mempu mengemukakan bukti-bukti sebagai pendukung yang meyakinkan, mampu menarik kesimpulan, dan mampu melihat implikasi dari kesimpulan yang sudah diambil.

CTL dibangun dengan tujuan agar bisa membangun pembelajaran yang muatan akademisnya berkaitan dengan konteks kehidupan pembelajar sehari-hari. Hal ini menjadi penting karena CTL mampu memberikan jawaban atas kegagalan pembelajaran secara tradsional telah membuat mayoritas anak gagal mencapai keberhasilan dengan standar tinggi. Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan agar CTL mampu mencapai keberhasilan belajar standtandar tinggi, diantaranya adalah prinsip saling ketergantungan, prinsip pembelajaran mandiri dan kerja sama, prinsip kebermaknaan dalam belajar, prinsip berpikir dan kreatif, prinsip penilaian secara autentik.

Pengalaman belajar harus memberikan peluang seluas-luasnya kepada pembelajar untuk melakukan aktivitas belajar agar daya serap pembelajar semakin baik. Ada beberapa kiat pembelajaran yang dapat meningkatkan daya serap pembelajar. Mestinya pengajar menghindari kegaitan pengajaran dengan member ceramah, dan memperbanyak pemberian kesempatan dengan memberi ceramah, dan memperbanyak pemberian kesempatan kepada pembelajar untuk melakukan sesuatu dan melaporkannya. Adpun komponen pembelajarn dapat dibedakan menjadi dua, yaitu komponen pokok meliputi pengajar, materi, dan pembelajar. Kedua yaitu komponen penunjang, meliputi metode, teknik strategi, dan media pembelajaran.


BERBAHASA SECARA KOMUNIKATIF DAN SANTUN

BERBAHASA SECARA KOMUNIKAT DAN SANTUN

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd


Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

      Berbahasa komunikatif merupakan berbahasa yang menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi-fungsi komunikasi agra mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca. Bagi penutur atau penulis agar dapat berkomunikasi dengan baik perlu mengemas gagasan menggunakan bahasa dengan memperhatikan berbagai hal, misalnya situasi, partisipan, tjuan, mitra komunikasi, kunci, instrumen, norma, dan ragam bahasa. Sebaliknya, bagi pendengar ketika sedang berkomunikasi berharap penutur menggunakan bahasa efektif agar mudah dipahami. Oleh karena itu, agar komunikasi dapat berjalan lancar, masing-masing orang memiliki strategi masing-masing dalam berkomunikasi. Biasanya cara berkomunikasi dilakukan menyesuaikan kebutuhan audien.

       Berbahasa secara komunikatif bukan hanya mengajarkan bagaimana bahasa yang digunakan oleh penutur dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan mitra tutur. Berbahasa secara komunikatif juga memiliki beberapa fungsi, diantaranya fungsi informatif, transaksional, interaksional, komisif, direktif, konatif, ekspresif, regulatori, heuristik, instrumental, dan fungsi imajinatif. Untuk mencapai fungsi komunikatif, dibutuhkan kesantunan saat berkomunikasi.  Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemakaian bahasa menjadi santun adalah intonasi, aspek nada bicara, faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat. Selain itu, terdapat faktor penentu kesantunan dari aspek nonkebahasaan berupa pranata sosial budaya masayarakat, topik yang dibicarakan, serta yang ada diseputar peristiwa komunikasi.

       Dalam berkomunikasi, sering kali kita tidak bisa memahami substansi dari komunikasi tersebut. Artinya, penutur belum berhasil menyampaikan apa yang disampaikan, atau mitra tutur yang tidak bisa memahami apa yang disampaikan oleh penutur. Kegagalan komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya tidak adanya informasi lama yang bisa dikolaborasikan dengan informasi baru oleh penutur, yang tujuannya adalah agar komunikasi tampak lebih menarik. Selain itu, ada faktor lain berupa tidak tertariknya mitra tutur terhadap informasi yang disampaikan, mitra tutur tidak berkenan dengan cara penyampaian penutur, substansi informasi tidak dimiliki oleh mitra tutur, mitra tututr tidak bisa memahami apa yang disampaikan penutur, dan adanya pelanggaran kode etik oleh mitra tutur ketika menjawab pertanyaan.

       Faktor yang menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa ditentukan oleh dua hal, yaitu faktor kebahsaan, dan faktor non-kebahasaan. Faktor kebahasaan yang dimaksuad adalah segala unsure yang berkaitan dengan amsalah bahasa, baik bahasa verbal maupun bahasa non-verbal. Faktor kebahasaan verbal yang dapat menentukan kesantunan adalah pemakaian diksi dan pemakaian gaya bahasa. Selain itu, kesanutnan juga berkaitan dengan nosi “wajah negative” dan “wajah positif”. Wajah negative terjadi mana kala pendengar merasa “kehilangan muka” ketika memndengar tuturan, pembicara dapat merasa terhina atau kehilangan harga diri. Sementara itu, wajah positif merupakan dambaan setiap orang yang gerlobat dalam komunikasi.




Kamis, 29 November 2018

ANALISIS WACANA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

ANALISIS WACANA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia 
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd



Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B


STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019


    Analisis wacana sebagai studi bahasa yang didasarkan pada pendekatan Pragmatik berarti mengkaji wacana bahasa dalam pemakaiannya berdasarkan konteks situasinya. Analisis wacana pada dasarnya ingin menganalisis dan menginterpretasi pesan yang dimaksud pembicara atau penulis. Segala alat pembanhgun wacana yang pada saat wacana itu dalam prposes dihasilkan melingkupi pembicara atau penulis akan dihadirkan kembali dan dijadikan alat untuk menginterpretasi. Semntara objek dari analisis wacana yang sesungguhnya yaitu sebuah teks. Teks sendiri bisa berupa wacana tulis maupun lisan. Adapun untuk memahami sebuah teks, Samsuri (1986) mengemukakan syarat kewacanaan suatu teks wacana yang terdiri dari kohesi, koherensi, intensionalitas, akseptabilotas, informativitas, situasionalitas, dan keinterwacanaan.

       Analisis wacana menganalisis penggunaan bahasa dalam konteks situasi pembicara atau penulis, sedangkan penelitian wacana lebih disokuskan pada hubungan pembicara dengan ujaran terutama yang menjadi sebab penggunanya. Biasanya topik dalam suatu wacana tidak sama dengan topik dalam suatu kalimat. Dalam analisis wacana, topik dibedakan menjadi topicality dan on a topi. Topic. Disebut topicality apabila topic pembicaraan pada masalah yang sama, sedangkan disebut on a topic apabila yang dibicarakan masih berhubungan, tetapi pembicara sering mengangkat permasalahan pembicaraan sendiri-sendiri.

       Salah satu ciri kewacanaan selanjutnya yaitu kekohesifan. Disebut kalimat kohesif apabila suatu kalimat memiliki keruntutan hubungan struktur antarkalimat. Selan itu, kohesi juga terdapat dalam satu kalimat atau sepotong ujaran. Hubungan kekohesifan suatu ujaran yang masih berada dalam suatu teks dinamakan endofora. Hal ini bisa ditandai dengan pemarkah berupa kata sambung dan, tetapi, sehingga, kemudian, dan seterusnya. Pertalian mata rantai (proposisi) satu dengan yang lain dalam suatu wacana ada beberapa jenis, diantaranya dengan kata penghubung dan, dan tanpa menggunakan kata penghubung. Dari pertalian mata rantai tersebut, juga bisa terjadi dalam beberapa bentuk, misalnya kohesif sekaligus koheren, kohesif tidak koheren, dan tidak kohesif tapu koheren.
Di dalam wacana, bahas dianalisis bukan sebagai produk tetapi sebagai proses, yaitu proses komunikasi. Di dalam komunikasi setidaknya ada dua orang yang terlibat atu yang biasa disebut dengan partisipan. Partisiapn pertaama mengungkapkan pikiran dengan menggunakan bahasa, tetapi bahasa yang sudah dibangun dalam bentuk wacana memakai alat-alat pemabangun wacana. Semenatara itu, partisipan kedua akan menangkap ide yang disampaikan partisipan pertama memperguanakan alat interpretasi, yang diambil dari alat pembangun wacana. Pertemuan partisipan pertama dan kedua pada waktu mengahdapi prodik berupa bahasa dapat diamati melalui membaca atau mendengarkan. Apabila anPlisis wacana dikaitkan denagn usaha seseorang dalam menguasai bahasa tertentu, sesungguhnya adalah menguasai bahasa untuk berkomunikasi. Semenatrai itu, pesan menjadi dalam berkomunikasi, tetapi siapapun tidak dapat berbuat apa-apa bila bahasa yang diginakan tidak mengandung pesan.

       Dalam kegiatan pengajaran bahasa, setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu proses pengajaran dan tujuan yang akan dicapai. Proses penagajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi antarpartisiapn, yaitu antara guru dengan murid. Murid sebagai partisipan yang akan emnangkap pesan yang disampaikan oleh guru dengan cara menginterpretsi ujaran guru. Sementaraa itu, guru merumusakan tujuan untuk murid, dengan demikian pada bagian ini tindakan guru mengatas namakan murid. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan rumusan pembelajaran tidak alin adalah agar murid dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia seacara langsung atau tidak langsung.

Kamis, 22 November 2018

ANALISIS KESALAHAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

ANALISIS KESALAHAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia 
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd



Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

ANALISIS KESALAHAN DALAM PEMBELAJARAN BERBAHASA 
Kesalahan berbahasa adalah penyimpangan kaidah dalam pemakaian bahasa. Kesalahan berbahasa terjadi pada anak kecil yang biasanya disebut erros (silap), dan orang dewasa atau yang disebut dengan mistake (kesalahan). Kesalahan berbahasa yang dilakukan anak akan secara terus menerus dibetulkan dan direspons secara baik-baik oleh LAD sehingga anak mampu membetulkan struktur-struktur kalimat salah yang pernah dilakukan. Semenatra pada orang dewasa, kendala yang dialami adalah ketika memasuki wilayah BD baru yang dapat diterima secara lamban. Hal tersebut disebabkan hanya menyisahkan otak sisi kiri yang berfungsi untuk berpikiri secara rasional sehingga sukar atau bahkan tidak menolak bahasa baru. Selain itu, terdapat pula faktor psikologis, yang meliputi rasa takut, rasa malu, rasa cemas yang menghantuinya ketika hendak berujar.

Pemerolehan bahasa yang di dapat pada proses pemerolehan B2 atau di sebut dengan bahasa antara, bukan termasuk kesalahan berbahasa. Hal ini dikarenakan masih berada dalam proses pembelajaran atau adaptasi dengan bahasa baru. Dalam hal ini penutur masih berupaya untuk menguasai bahasa yang baru dipelajari, baik dari segi struktur, kaidah, dan lain sebagainya. Ciri utama pada bahasa antara adalah adanya penyimpangan struktur lahir dalam bentuk kesilapan (errors) berbahasa.

Proses sentral adalah proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing yang terajdi pada sistem kognisi pembelajar. Menurut Selinker (1972) menyebutkan lima proses sentral yang terjadi pada bahasa antara pembelajar, diantarnya adalah transfer bahasa sebagai kesilapan yang terjadi karena pemindahan unsur-unsur bahasa pertama yang telah memfosil ke dalam bahasa kedua. Yang kedua yaitu transfer of training sebagai kesilapan karena prosedur pengajaran. Proses sentral selanjutnya yaitu pada strategi belajar B2 yang dapat menimbulkan kesilapan karena pendekatan yang dilakukan pembelajar teradap materi kaidah bahasa kedua yang sedang dipelajari. Selanjutnya strategi komunikasi sebagai kesilapan ynag terjadi karena pendekatan yang dilakukan oleh pembelajar dalam komunikasi dengan orang lain/penutur asli. Dan yang terakhir adalah over generalization sebagai kedisiplinan yang disebabkan oleh generalisasi yang berlebihan. 

Adapun langkah-langkah dalam analisis kesalahan berbahasa dimulai dari tahap mengenal kalimat-kalimat idiosinkretik. Tahap selanjutnya yaitu mendeskripsikan bahasa antara berdasarkan pasangan-pasangan kalimat yang baik dan jelek strukturnya di atas tadi. Setelah mendeskripsikan, data-data yang sudah terkumpul di jelaskan.  Yang terakhir adalah tahap interpretasi, yang dilakukan apabila semua tahap analisis selesai dilakukan. Dalam penelitian yang sudah ada, implikasi ke dalam BI dapat diasumsikan bahwa kebanyakan peneliti bahasa dan guru bahasa belum bisa mengidentifikasi sebab-sebab kesalahan serta seberapa tingkat kesalahan yang diperbuat oleh pembelajar dalam berbahasa. 

Kamis, 15 November 2018

PEMBELAJARAN BAHASA DALAM MASYARAKAT DWIBAHASA

PEMBELAJARAN BAHASA DALAM MASYARAKAT DWIBAHASA 

Rangkuman 

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia Semester III  

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd



Disusun oleh: Dian Wijayanti 
NIM: 17188201064 
Prodi: PBSI 2017B 

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019 

Kedwibahasaan merupakan pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseptif oleh seorang individu atau oleh masyarakat. Di Indonesia, umumnya tergolong masyarakat dwibahasa, meskipun tidak jarang ada masayarakt yang juga multibahasa. Dalam implementasinya, banyak gejala yang berhubungan dengan terjadinya masyarakat dwibahasa. Salah satunya adalah kontak bahasa yang sering timbul interferensi yang dianggap sebagai peristiwa negative, atau transfer yang sering dipandang gejala yang wajar atau positif.

Kedwibahasaan terbagi atas kdwibahasaan majemuk, kedwibahasaan koordinat, dan kedwibahasaan sub-ordinat. Kedwibahasaan majemuk adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa salah satu bahasa lebih baik daripada kemampuan berbahasa yang lain . sementara itu, yang dimaksud dengan kedwibahasaan koordiantif atau sejajar adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa sama-sama baiknya oleh seorang individu. Sedangkan kedwibahasaan sub-ordinatif adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknuya. 

Adapun tipe kedwibahasaan meliputi kedwibahasaan horizontal, yaitu situasi pemakaian dua bahasa yang brbeda, tetapi masing-masing memiliki status yang sejajar baik dalam situasi resmi, kebudayaan, maupun dalam kehidupan keluarga dari kelompok pemakainnya. Selamjutbya kedwibahasaan vertikal, yaitu pemakaian dua bahasa baku atau dialek, baik yang berhubungan atau terpisah, dimiliki oleh seorang penutur. Dan yang terakhir yaitu kedwibahasaan diagonal, yaitu pemakaian dua bahasa dialek atau tidak baku secara bersama-sama. 

Selama proses penguasaan B2, seseorang biasanya mengahsilkan bahasa antara sebelum menuju dwikebahasaan. Bahasa anatara pembelajar banyak terjadi interferensi ataupun campur kode. Meskipun secara sosiolinguistik interferensi merupakan gejala negatif dalam berdwibahasa, tetapi dari aspek penagjaran sebenarnya seorang pembelajar bahasa sedang tumbuh menuju kesempurnaannya. Sementara itu, campur kode sebagai salah satu fenomena yang terjadi pada pembelajar juga tidak mungkin dihindari. Adapun kode yang lazim terjadi dalam campur kode adalah pada tataran kalausa. 

Pengukuran kedwibahasaan perlu memperhatikan situasi kebahasaan yang ada ada dalam masyarakat, utamanya masayarakat dwibahasa sebagai acuan dalam perencaan pengajaran bahasa maupun penyusunan kurikulum. Menurut MacKey (1956) pengukuran kedwibahasaan dapat dilakukan melalui beberapa aspek, diantaranya adalah aspek tingkat, aspek fungsi, aspek pergantian, dam aspek interferensi. Semnatari itu, ada faktor yang juga harus diperhatikan dalam pengukuran kedwibahasaan dari segi fungsi, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang menyangkut pemakaian internal, sedangkan eksternal yaitu faktor diluar pemakai bahasa.

Kamis, 08 November 2018

ANALISIS KONTRASTIF (AK) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

ANALISIS KONTRASTIF (AK) 
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd



Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

ANALISIS KONTRASTIF (AK)
Analisis kontrastif merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan kaidah bahasa. Kaidah bahasa sendiri dibedakan atas ilmu bahasa dan keterampilan bahasa. Ilmu bahasa mencakup struktur dan fungsi, sedangkan keterampilan bahasa meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam kaitannya pembelajaran bahasa Indonesia, AK mempunyai hubungan erat dengan aspek kebahasaan. Dalam pembelajaran bahasa, aspek kebahasaan bisa ditemukan pada Kompetensi Inti (KI) atau Kompetensi Dasar (KD) dari pembelajaran tersebut. untuk memperoleh B2, terlebih dahulu perlu dilakukan pengontrasan kedua sistem bahasa.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, AK tidak begitu diperlukan atau diperlukan kapan saja jika dibutuhkan dan tidak bersifat memaksa. Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki ciri khas masing-masing dalam berbahasa. Berbeda halnya dengan penelitian, maka AK sangat dibutuhkan untuk memoderatkan bahasa. Artinya, objek penelitian diharuskan untuk bisa menyamakan bahasa antara satu objek dengan objek yang lain.

Dalam merumuskan teori AK, ada pandangan bahwa AK tidak perlu digunakan secara ketat karena memiliki banyak kelemahan dan gejala-gejala, namun ada juga yang berpandangan bahwa AK sangat diperlukan. Alasan ini merujuk pada kenyataan bahwa pengontrasan B1 dan B2 dapat meningkatkan pemahaman tenaga pendidik dalam aspek kebahasaan. Seiring  berjalannya waktu, teori AK menajdi popular semenjak munculnya karya Lado yang berjudul Linguistics a cross Culture. Didalam bukunya, Lado menganjurkan pengontrasan dilakukan terhadap fonologi, struktur gramatik, kosa kata dan sistem tulisan.

Asumsi bahwa AK perlu dilakukan karena untuk menjembatani penyebab kesulitan belajar bahasa kedua yang disebabkan oleh interferensi dari bahasa ibu pembelajar. Selain itu, terdapat kesulitan yang terjadi karena pperbedaan dari kedua sistem bahasa. AK sendiri dibentuk dengan tujuan memberikan wawasan tentang persamaan dan perbedaan antara bahasa pertama dengan bahasa kedua yang dipelajari. Selain itu, AK menjelaskan dan memperkirakan masalah-masalah yang timbul dalam belajar B2. Tujuan yang terakhir adalah mengembangkan bahan pelajaran bahasa kedua untuk penagajaran bahasa.

Kamis, 01 November 2018

PROSES BELAJAR BAHASA

PROSES BELAJAR BAHASA

Rangkuman 
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia 
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd


Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019


PROSES BELAJAR BAHASA
Proses belajar bahasa terbagi atas belajar bahasa non formal dan formal. Proses belajar bahasa non formal merupakan proses belajar secara alamiah, dimana proses belajar ini biasa dilakukan pada lingkup keluarga. Sementara proses belajar bahasa formal merupakan proses brlajar bahasa yang didalamnya terlebih dahulu harus mengalami bentukan, pembelajaran, perencanaan, proses dan evaluasi.

Salah satu proses belajar bahasa yang bisa digunakan adalah model Krashen, diantaranya membahas tentang penguasaan bahasa pada anak kecil yang disini disebut sebagai proses pemerolehan, biasanya pada tahap ini bersifat alamiah. Selanjutnya terjadi dengan proses belajar pada penguasaan bahasa  orang dewasa. Teori kedua menjelaskan bahwa hipotesis urutan alamiah, dimana anak kecil lebih mudah menguasai bahasa yang lebih sederhana, dan mengalami peningkatan penguasaan bahasa pada jenjang usia tertentu. Hipotesis ini dipengaruhi oleh hipotesis lain seperti monitor, input dan filter afektif, yang masing-masing menjelaskan tentang penguasaan bahasa dengan sudut pandang yang berbeda.

Proses belajar selanjutnya yaitu model Bialystok, yang mana memiliki tiga tataran, diantaranya input, knowledge dan output. Tataran input merupakan proses dimana seseorang mengumpulkan bahasa, baik dengan cara berbicara maupun membaca. Pada tataran knowledge, seseorang akan menyimpan bahasa yang telah dikumpulkan melalui dua cara, yaitu secara eksplisit dan emplisit, tergantung bagaimana bahasa itu akan digunakan. Setelah disimpan, bahasa akan akan dipahami dan disampaikan, baik dalam bentuk tulisan maupun bahasa lisan yang di lakukan pada tataran output.

Proses belajar yang terakhir yaitu model Stevicks. Stevicks menggambarkan proses penguasaan bahasa dalam bentuk diagaram yang disebut diagram mesin tenaga. Stevicks menggambarkan proses belajar bahasa dimulai dari penyimpanan hasil belajar untuk selanjutnya diungkapkan. Dalam mengungkapkan bahasa, terdapat faktor afeksi yang membuat orang sensitif terhadap sistem yang diperoleh, akibatnya orang tersebut berbicara sangat lancar atau sangat lamban.

Apa model yang bisa digunakan dalam proses belajar bahasa pada menulis teks laporan hasil observasi?

Model Bialystok
Tataran model Bialystok, terdiri dari:
1. input
Guru bisa membuat perencanaan pembelajaran, diantaranya identitas, mata pelajaran, perumusan indikator, perumusan tujuan pembelajaran, pemilihan materi ajar, pemilihan sumber belajar, pemilihan media belajar, skenario pembelajaran, penilaian, dan alokasi waktu.

2. Knowledge 
Guru dapat memberi tiga kegaiatan, yaitu pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan, guru melakukan apersepsi dan motivasi. Apersepsi dilakukan dengan mengaitkan pada pengalaman siswa dan pada pembelajaran sebelumnya. Selain itu, guru juga menyampaikan kompetensi dan rencana kegiatan. Pada kegiatan inti guru melaksanakan pembelajaran dengan menunjukkan penguasaannya terhadap materi menulis teks laporan hasil observasi. Guru juga menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik, menerapkan pembelajaran scientific karena didalamnya terdapat kegiatan mengamati, menanya, menganalisis, menalar dan mengomunikasikan.

3. Output 
Penialain yang dilakukan guru dalam pembelajaran menulis teks hasil observasi terdiri atas penilaian sikap dilakukan oleh guru dengan melakukan observasi langsung terhadap siswa. Penilaian pengetahuan dilakukan oleh guru, baik secara lisan maupun tulisan. Penilaian tersebut dilakukan disela-sela guru menjelaskan materi ajar. penilaian keterampilan dilakukan oleh guru saat melakukan diskusi kelompok. Keterampilan yang dilkukan siswa yaitu menulis teks laporan hasil observasi. 

Jumat, 26 Oktober 2018

PENDEKATAN LINGUISTIK DALAM PBI

PENDEKATAN LINGUISTIK DALAM PBI

Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia 
Semester III
Guru Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd



Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

A. KURIKULUM YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA
       Kurikulum di Indonesia dirancang bersama kurikulum yang berlaku didunia dan di sesuaikan dengan kebutuhan bangsa Indonesia. Di Inodenesia, pertama kali kurikulum diterapkan pada tahun 1964 dan mengalami beberapa perubahan pada tahun 1975, 1984, 1994, 2006, dan kurikulum 2013 yang digunakan hingga saat ini. Implementasi kurikulum diawali dengan berorientasikan pada linguistik tradisional menuju pendekatan struktural, selanjutnya mengalami perubahan menuju pendekatan komunikatif yang juga di terapkan pada kurikulum 2013. 

B. PENDEKATAN LINGUISTIK TRADISIONAL DALAM BI
      Linguistik tradisional merupakan dasar dari ilmu linguistik yang dipelajari oleh ahli pengajaran bahasa. Studi ini didasrkan atas asumsi filsafat, bahasa yang diperoleh dari bahasa tulis, dan berbahasa sesuai kaidah. Dengan asumsi tersebut, linguistik tradisional dapat mendeskripsikan ruang lingkup kajian bahasa fonologi, morfologi, sintaksis dan gramatik. Ciri utama dalam linguistik tradisonal adalah penggunaan kalimat ganda, yaitu beberapa jenis kata di deskripsikan secara tradisonal dan jenis kata lain di definisakan secara relasioanal.

C. PENDEKATAN LINGUISTIK STRUKTURAL DALAM PBI
       Identifikasi bahasa mengenai bahasa primer, yaitu bahasa lisan, sedangakan bagasa tulis merupakan bahasa tiruan dari bahasa lisan yang masih belum sempurna. Linguistik struktur mengkaji tentang urutan pragmatik dan urutan sintagmataik, dimana urutan antar kata atau pemberian tekanan yang berbeda dari satu kata ke kata lain dapat membedakan makna. Dari pemikiran linguis struktural, kurikulum BI dapat diklasifikasikan menjadi pokok bahasan fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikal, juga keterampilan bahasa yang mencakup menyimak/berbicara dan membaca/menulis.

D. PENDEKATAN SECARA KOMUNIKATIF
        Pendekatan seacra komunukatif berkaitan erat dengan dengan pendekatan bahasa berdasarkan teori pragmatik. Di dalam pendekatan ini terdapat dua asumsi yang digunakan untuk menganalisis sebuah pernyataan. Yang pertama ko-teks, yaitu teks lain yang mengawali atau mengikuti teks tertentu dalam suatu tuturan. Selanjutnya ada konteks, yaitu teks lain, atau situasi yang berada diluar teks yang sedang dibicarakan.

E. PERMASALAHAN KURIKULUM DAN PENDEKATAN LINGUISTIK DALAM PBI
      Permasalah kurikulum terletak pada sikap pendidik yang belum sepenuhnya mampu mengimplementasikan indikator-indikator yang berlaku di kurikulum. Seperti kurikulum 2013, dimana pendidik di wajibkan untuk bisa menguasai tiga aspek yang meliputi isi, proses dan penilain dalam pengajaran. Selain itu, terdapat pendekatan yang bisa dilakukan pda saat pembelajaran, yaitu pendekatan psikologi dan pendekatan linguistik. Namun pada kenyataanya, indikator-indikator tersebut belum bisa terealisasikan dengan baik. 

Jumat, 19 Oktober 2018

PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM BELAJAR BAHASA

PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM BELAJAR BAHASA

Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Bahasa Indonesia Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd


Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

A. Pengertian Pendekatan Psikologi
     Merupakan asums - asumsi teoritis yang diyakini oleh psikologi tertentu yang saling berhubungan yang menyangkut hakikat belajar dan pengajaran pada diri seseorang. Dalam setiap paham psikologi, memiliki keyakinan-keyakinan tertentu akan belajar, termasuk dalam belajar bahasa. Dalam ilmu psikologi, pendekatan-pendekatan khusus yang digunakan dalam belajar bahasa dibagi atas, pendekatan behavior, pendekatan kognitivisme, pendekatan humanisme, dan pendekatan konstruktivisme.

B. Pendekatan Behaviorisme
       Merupakan teori perkembangan perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dihasilkam dari respon pelajar terhadap sebuah rangsangan yang diberikan oleh pendidik. Rangsangan itu selanjutnya akan diperkuat dengan adanya umpan balik, baik ipositif maupun negatifpada perilaku kondisi yang diinginkan. Sementara itu, para ahli psikologi belajar bahasa membagi tahapan belajar bahasa yang terdiri dari, tahap trial dan error, tahap mengingat, tahap menirukan, tahap mengasosiasikan, dan tahap menganalogi.

C. Pendekatan Kognitivisme
   Merupakan proses meghubungkan informasi baru dengan konsep lama dan proposisi-proposisi yang sudah ada di dalam kognisi anak dengan tujuan memperoleh pengetajuan baru, ingatan baru, organisasi pengetahuan baru yang secara psikologis merpukam struktur secara hierarkis, serta terjadinya proses kelupaan.

D. Pendekatan Humanisme
    Memberikan peranan yang penting dan besar pada pembelajar dalam proses belajar serta berorientasi terhadap kebutuhan pembelajar. Adapun pendekatan-pendekatan yang bisa memberikan sugesti adalah memberikan rasa gembira dan santai secara psikologis, memanfaatkan reserve powers, menjalin bentuk kerja sama yang harmonis antara keambang sadaran dan kesadaran.

E. Pendekatan Konstruktivisme
       Memiliki landasan berpikir pada pendekatan kontekstual, yang dibangun sedikit demi sedikit oleh manusia dan hasilnya diperluas dalam konteks tak terbatas. Pendekatam ini dibina dalam struktur kognisis seseorang dan kemudian berkembang, serta berubah jika seseorang tersebut mendapatkan ilmu pengetahuan maupun pengalaman baru.

F. Implikasinya dalam pembelajaran BI
   Pendekatan behaviorisme dan kognitivisme sampai sekarang sama-sama berkembang penerapannya dalam proses pembelajara bahasa dengan memperhatikan persyaratan yang telah ditentukan. Sementara pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran bahasa dipandang sebagai pendekatan mutakhir atau paling sesuai dengan sifat-sifat dasar anak-anak. Pendekatan ini dilakukan dengam adanya kebebasan yang teramati sesuai dengan perkembangan kognitif anak.

Jumat, 12 Oktober 2018

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Rangkuman

KONDISI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Di ajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : M. Bayu Firmansyah, M.Pd


Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

A. PERKEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pembelajaran bahasa Indonesia (PBI) bagi bangsa Indonesia melalui pendidikan formal secara yuridis tidak pernah berubah statusnya karena terikat oleh UUD 1945. Undang-undang yang berada di bawah UUD 1945, yaitu UU Sisdiknas 2003. Kedudukan PBI pernah termaginalkan di sekolah RSBI maupun SBI. Mahkama Konstitusi terpaksa membatalkan RSBI maupun SBI yang pernah di rintis oleh Depdikbud karena dirasa sangat bertentangan dengan UUD 1945 maupun UU Sisdiknas 2003. Pembatalan RSBI dan SBI tidak lain dimaksudkan agar kedudukan PBI di sekolah tetap mendapatkan eksistensinya dan tidak di tinggalkan demi internasionalisasi. Di satu sisi, bangsa Indonesia ingin memperkuat karakter bangsa agar memiliki kepribadian Indonesia, seperti rasa nasionalisme, semangat kebangsaan, percaya diri, dan sebagainya.

B. DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PEMBELAJARAN BI
Perkembanagan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi membuat  manusia mengetahui apapun yang terjadi di negara-negara lain dengan waktu yang cepat. Akibatnya, rasa rasionalisme semakin tergerus dengan banyaknya informasi yang di dapat dari negara lain yang di rasa lebih baik. Seperti halnya bahasa Indonesia, yang di anggap kurang eksis apabila di bandingkan dengan bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan bahasa Arab yang lebih mendunia. Mindset masyarakat indonesia yang sudah terkontaminasi dengan budaya asing memang sukar di ubah. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga eksistensi BI sendiri pada mulanya melalui diri sendiri, dengan menyadari serta menumbuhkan kembali eksistensi bahasa Indonesia di tengah globalisasi.

C. PERMASALAHAN BI DAN PEMBELAJARANNYA
1. Permasalah BI
BI belum mampu mengungkapkan pikiran yang rumit dan kompleks, tetapi karena ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia belum berkembang dengan baik, sehingga banyak istilah yang dapat mewadahi konsep-konsep IPTEKS. Dengan kata lain, kelemahan BI adalah cermin dari masih lemahnya ilmuwan Indonesia yang belum banyak melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, masalah BI juga berkaitan erat dengan pasang surutnya ketertarikan bangsa asing dalam mempelajari BI yang dipengaruhi oleh masalah politik,ekonomi, keamanan, dan kebudayaan.
2. Pembelajaran BI
 Pembelajar BI terdiri dari warga negara indonesia maupun warga negara asing, baik dipelajari di indonesia maupun di luar indonesia yang menyediakan pembelajaran BI. Di indonesia sendiri, BI disiapkan melaului kurikulum pendidikan formal. Pengajaran BI bisa dilakukan dengan pendekatan psikolgis, dimana guru memberikan kebebasan bagi peserta didik untuk mengonstruksi kebenaran berdasarkan perkembangan pikirannya sendiri. Guru juga bisa menggunakan pemdekatan linguistik pada pembelajaran BI dengan cara memberikan ruang kepada peserra didik untuk berbahasa melalui kegiatan apapun. Dalam pembelajarannya, terdapat beberpa permasalahan BI,  diantaranya mengenai materi, metode, dan media pembelajaran.