APRESIASI
NOVEL “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH” KARYA TERE LIYE
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sastra Kontemporer
Semester VI
Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah,
M.Pd
Disusun
Oleh:
Dian Wijayanti
NIM. 17188201064
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PGI WIRANEGARA PASURUAN
2020
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah Tugas Mata Kuliah Sastra Kontemporer yang berjudul : Apresiasi
novel “Moga Bunda Disayang Allah” Karya Tere Liye . Sholawat
serta salam penulis sampaikan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah
memberikan ilahiah dalam hidup dan kehidupan manusia di dunia. Dalam penulisan
laporan ini penulis telah dibantu oleh beberapa pihak, dan pada kesempatan ini
izinkan penulis untuk mengucapkan terima kasih kepada :
- Bapak M. Bayu Firmansyah, M. Pd selaku Dosen Mata Kuliah Sastra
Kontemporer yang telah memberikan arahan kepada penulis selama menempuh
perkuliahan di Universitas
PGRI Wiranegara.
- Bapak dan Ibu dosen Universitas PGRI Wiranegara yang telah menyampaikan
ilmu kepada penulis sehingga penulis memiliki bekal dalam penyusunan
makalah ini.
- Kedua orang tua yang telah senantiasa
mendoakan dan mendukung penulis guna menyelesaikan laporan tugas akhir
ini.
Penulis berharap semoga makalah ini
dapat memberikan banyak manfaat bagi semuanya.
Akhirnya, kepada semua pembaca makalah ini, disampaikan
banyak terimakasih atas segala masukan dan saran – saran berharga untuk karya
yang telah kami berikan. Semoga tuhan Yang Maha Esa mempermudah kita untuk
menuntut ilmu.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Sidoarjo, Mei 2020
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL…………………………………………………………………….
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………..
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………….
1.1
Latar Belakang………………………………………………………
1.2
Rumusan Masalah…………………………………………………....
1.3
Tujuan Penulisan……………………………………………………..
BAB II KAJIAN PUSTAKA……………………………………..……………….
2.1
Sastra……..…………………………………………………………
2.2
Definisi
Sastra………….……..……..………………………………
2.3
Pengertian
Novel ……………………….…………………………..
2.4
Pengertian
Novel Kontemporer…………………………………….
BAB III PEMBAHASAN………………………………………………………….
3.1
Fakta Cerita………………………………………………………..
3.1.1 Tema………………………………………………………..
3.1.2 Alur/Plot…………………………………………………..
3.1.3 Tokoh dan
Penokohan………………………………………
3.1.4 Latar/Setting………………………………………………….
3.15 Sudut
Pandang…………………………………………………
3.1.6 Gaya
Bahasa/Majas…………………………………………..
3.1.7
Amanat………………………………………………………….
3.2
Nilai-Nilai
Kehudupan……………………………………………..
3.2.1 Nilai Kesabaran…………………………………………………..
3.2.2 Nilai Religius………………………………………………….
3.2.3 Nilai
Tolong-Menolong………………………………………..
3.2.4 Nilai Pekerja Keras……………………………………………
3.2.5 Nilai
Kesetiaan…………………………………………………
3.5.6 Nilai
Pendidikan……………………………………………….
BAB III PENUTUP…….…………………………………………………………...
3.1
Kesimpulan…………………………………………………………...
3.2
Saran………………………………………………………………….
3.3
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………………….
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Karya sastra tumbuh disekitar masyarakat sebagai hasil dari pemikiran pengarang
serta pengaruhnya terhadap masalah sosial yang terjadi disekitarnya. Oleh
karena itu, karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Karya
sastra juga dipengaruhi oleh ide-ide dan latar belakang sosial dari
pengarangnya. Agar sebuah karya sastra dapat dipahami secara jelas tidak cukup
hanya dengan menganalisis unsur intrinsik dalam sebuah karya sastranya saja.
Karena unsur-unsur yang terdapat didalam karya sastra tidak cukup untuk
mewakili makna karya sastra secara menyeluruh. Karya sastra dapat berupa puisi,
prosa, dan prosa liris. Karya sastra yang berbentuk prosa misalnya seperti
cerpen dan novel. Jadi novel merupakan salah satu karya sastra yang berbentuk
prosa.
Novel merupakan salah
satu karya sastra yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Karena
novel dapat mengajarkan tentang sifat-sifat manusia dari segi kehidupan yang
dijalaninya. Hal tersebut dipengaruhi dengan adanya tema dan amanat dalam
novel, seperti tema kemanusiaan, sosial, ketuhanan, dan lain-lain. Disamping itu
faktor pribadi setiap pengarang juga dapat mempengaruhi proses lahirnya suatu
karya. Misalnya seperti novel ”Moga Bunda Disayang Alloh” karya Tere Liye
merupakan karya sastra yang menggarap tema universal yaitu cinta, cinta disini
lebih berkaitan dengan kasih sayang yang dimiliki seorang ibu yang begitu besar
kepada anaknya meskipun anaknya memiliki keterbatasan. Tere Liye dalam judulnya
menggambarkan seakan-akan harapan yang dimiliki seorang anak begitu besar
kepada sang pencipta untuk selalu menyayangi ibunya.
Sastra merupakan sebuah
seni yang dapat menyajikan sesuatu yang menghibur dan menyenangkan. Selain itu
juga memberikan pelajaran seperti pendidikan moral atau akhlak yang dapat
mempengaruhi berkembangan karakter manusia. Teori sastra berfungsi untuk
menjelaskan hakikat sastra, dan disini teori yang digunakan untuk menjelaskan
karya sastra yaitu teiri strukturalisme. Menurut Nyoman Kutha (2008:91)
strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu berdiri
dengan mekanisme antar hubungannya disatu pihak antara hubungan unsur yang satu
dengan unsur yang lainnya, dilain pihak hubungan antara unsur-unsur dengan
totalitasnya. Jadi berdasarkan pengertian strukturalisme merupakan analisis
karya sastra berdasarkan dengan unsur-unsur yang ada didalamnya, seperti unsur
instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu seperti tema, alur,
penokohan, amanat, latar, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik berupa
unsur yang ada diluar karya sastra seperti latar belakang budaya, agama, dan
riwayat pendidikan pengarang.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa saja fakta cerita yang ada di dalam
novel “Moga Bunda Disayang Allah” karya Tere Liye?
2.
Apa saja nilai-nilai kehidupan yang ada
di dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah” karya Tere Liye?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mendeskripsikan fakta cerita yang
ada di dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah” karya Tere Liye.
2.
Untuk mendeskripsikan nilai-nilai
kehidupan yang ada di dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah” karya Tere Liye.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1
Sastra
Sastra merupakan
cermin/gambar mengenai kenyataan, tetapi dunia melukiskan banyak hal yang dalam
kenyataan tidak pernah ada. Sastra juga merupakan cabang dari kebudayaan, ia
merupakan proses kreatif seniman berupa ekspresi pengalaman jiwa mengenai
kehidupan manusia dengan media tertentu menjadi karya seni. Dengan media bahasa
yang estetik (indah) seniman dapat menciptakan seni sastra berupa karya sastra,
seperti novel, cerpen, drama, dan lain-lain.
2.2
Definisi Satra
Definisi sastra telah
banyak ditemukan oleh para pakar dengan beraneka ragam paparan dengan tujuan
yang sama untuk menaruh kesimpulan yang akurat dan valid tentang apa itu sastra
tentu belum ada. Walau demikian dapat membentuk ulasan tentang definisi sastra
sebagai berikut : Dalam bahasa Sansekerta, sastra berasal dari kata sas dan
tra. Sas berarti menggerakkan, memberi petunjuk atau instruksi. Sedangkan tra
berarti alat dan sarana untuk menyampaikan gagasan. Dalam bahasa Melayu sastra
diartikan tulisan. Pengertian ini kemudian ditambah dengan kata su yang berarti
baik dan indah. Jadi ‘susastra’ berarti karangan yang indah dan bagus isinya.
Terdapat pengertian lain tentang sastra, yaiut merupakan karya fikir yang
memuat tentang perilaku kehidupan manusia yang kompleks dalam bentuk penyajian
yang indah dan seni. Dikatakan demikian bahwa sebuah karya sastra sesungguhnya
merupakan hasil kontemplasi kekuatan imajinasi penulisnya untuk menggambarkan
sikap dan perilaku kehidupan kita dalam bentuk yang sedemikian indah agar pembaca
tersentuh perasaannya untuk menghayati peristiwa yang telah ditulis oleh
penyairnya.
Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia dituliskan definisi sastra adalah sebagai berikut:
a. Bahasa (kata-kata gaya bahasa) yang
dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).
b. Karya tulis yang jika dibandingkan
tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan,
keindahan, dalam isi dan ungkapannya.
c. Kitab suci Hindu; kitab ilmu pengetahuan.
d. Pustaka; kitab primbon (berisi
ramalan, hitungan, dan sebagainya).
e. Tulisan; huruf.
Apa yang ditemukan dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia di atas, dapat ditarik suatu persepsi bahwa sastra itu adalah
kumpulan pengetahuan, petunjuk, ajaran yang dikemukakan dalam bentuk yang
indah.
2.3
Pengertian Novel
Novel (Inggris : novel)
merupakan bentuk karya sastra yang seligus disebut HKSI selain cerita dan
ramalan. Novel berasal dari bahasa Itali, Novella (Jerman:Novelle). Secara
harfiah Novella berarti “sebuah barang baru yang kecil” dan kemudian diartikan
sebagai cerita pendek dalam bentuk Prosa (Abraham dalam Nurgianto,2007 : 9).
Menurut Nurgiato (2007 : 11) novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas,
menyajikan sesuatu lebih banyak, lebih rinci, lebih detail dan lebih kompleks.
Kelebihan novel yang khas adalah kemampuannya menyampaikan permasalahan yang
kompleks secara penuh, mengkreasikan sebuah dunia yang “jadi”. Novel juga lebih
mengacu kepada realitas yang lebih tinggi dan psikologis yang lebih mendalam.
Goldman
mengidentifikasikan novel sebagai cerita tentang suatu pencarian yang
terdagrasi akan nilai-nilai yang otentik yang dilakukan oleh seorang hero yang
problematik dalam sebuah dunia yang juga mengorganisasikan dunia novel, secara
keseluruhan meskipun hanya secara implisit. Sedangkan degradasi adalah suatu
keadaan yang bersangkutan dengan adanya perpecahan yang tidak terjembatani
antara hero dengan dunia. Jadi novel adalah sebuah hasil karya sastra yang
mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu lebih banyak, lebih
rinci, lebih detail dan lebih kompleks, serta menyampaikan permasalah yang
kompleks secara penuh, kreatif dan
mengkritisi dalam dunia nyata. Menurut Jean Piaget, pengertian struktur
mengandung tiga gagasan pokok, yaitu (1) gagasan keseluruhan (Wholeness) dalam arti bahwa
masing-masing unsure menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsic yang
menentukan, baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya sehingga menjadi
koherensi internail, (2) gagasan transpormasi (transformation) yaitu struktur
itu tidak statis tetapi terdapat transpormasi yang terus menerus sehingga
memungkinkan munculnya bentuk-bentuk baru, (3) gagasan mandiri (self regulation) yaitu tidak memerlukan
ha lain di luar dirinya.
Unsure-unsur intrinsik
novel terdiri atas (a) tema, (b) fakta cerita, (c) sarana cerita. Tema adalah
dasar cerita, gagasan dasar umum sebuah karya novel yang telah ditentukan
sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita. Dengan
demikian pemilihan berbagai undur instrik hendaknya diusahakn mencerminkan
gagasan dasar umum (tema) tersebut.[4] Gaya bahasa (style) adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana
seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan. Gaya bahasa pada
hakekatnya merupakan teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat
mewakili sesuatu yang akan diungkapkan.
Menuru Abrams (1981),
unsure style terdiri dari fonologi, sintaksis, leksikal retorika. Di pihak
lain, Leech and Short (dalam Nurgianto, 1995) mengemukakan unsure style terdiri
dari leksikal (diksi), gramatikal (struktur kalimat) pemajasan (gaya bahasa
kiasan), penyiasatan struktur (repetisi, paralelisme, anaphora pertanyaan
retoris) dan pencitraan (imagery)
yaitu kumpulan cerita yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas
tanggapan indra yang dipergunakan dalam karya sastra.
Adapun tokoh cerita
menurut Abrams (1981) adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif.
Penokohan menunjuk pada sifat dan sikap dan kualitas pribadi seorang tokoh.
Ditinjau dari tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita tokoh dibedakan
menjadi tokoh utama (central character
main character) dan tokoh tambahan (peripheral
character). Ditinjau dari perannya, tokoh dibedakan menjadi dua, yaitu
tokoh protagonist (yang dikagumi) dan tokoh antagonis (yang dibenci). Sarana
cerita meliputi sudut pandang penceritaan dan gaya bahasa. Sudut pandang (point of view) merupakan cara, strategi,
teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan
dan ceritanya.
2.4
Satra Kontemporer
Dalam Kamus Istilah Sastra, Teeuw
A. (1983) menuliskan, novel adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh,
alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang
pengarang, dan mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan
yang menjadi dasar konvensi penulisan.
Pengertian novel kontemporer
secara sederhana yakni novel yang hidup pada masa kini atau novel yang hidup
pada waktu yang sama, novel yang berusaha bergerak mendahului keadaan zamannya
(Salam, 2000). Sedangkan pengertian novel kontemporer secara luas yakni novel
yang menyimpang dari semua sistem penulisan fiksi yang ada selama ini atau yang
bersifat konvensional , novel yang menggarap masalah fiksi dan batin dengan
pola yang aneh tetapi suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.
Berdasarkan dua pengertian
novel kontemporer di atas, maka novel Indonesia kontemporer adalah novel
Indonesia yang bentuknya menyimpang dari sistem penulisan fiksi di Indonesia
selama ini dan yang menggarap masalah fiksi dan batin manusia Indonesia dengan
pola yang aneh tetapi dengan suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.
BAB
III
PEMBAHADSAN
3.1
FAKTA CERITA
1. Tema
Tema
yang terdapat pada novel Moga Bunda Disayang Allah adalah kehilangan indera
penglihatan dna pendnegaran tidak lantas menjadikan seseorang itu lemah, berusaha
adalah kunci keberhasilannya. Awalnya Melati adalah seorang anak yang normal,
sangat menggemaskan, lucu, sama periangnya dengan anak-anak yang baru berusia 3
tahun. Tuhan berkehendak lain, Melati harus mengalami kebuataan dam lebih paranhya
lagi ia juga harus kehilangan indera pendengarannya hingga ia berusia 6 tahun.
3 tahun yang di jalani olah Melati dalam kegelapan, kesunyian membuat aksesnya
keduania sekitar terputus.
2.
Plot
Jika ditinjau dari segi
penyusunan cerita atau bagian-bagian yang membentuknya, novel “Moga Bunda
Disayangi Alloh” termasuk kedalam kategoi novel beplot progresif. Pada awal
bagian (keeping pertama) penulis bereksposisi tentang 2 tokoh sebagai dalang
yang mengelola alur cerita. Tokoh dalang dimainkan oleh dua orang, yaitu Melati
dan Bunda. Tokoh ini merupakan pengejawantahan dari pengerang.
Penampilan kedua dalang
ini merupakan personifikasi dari ide dan proses dialogis pengetahuan empirisnya
yang menjadi sumber inspirasi Tere Liye untuk menciptakan karya sastra ini. Pada
keeping berikutnya, Tere Liye berupaya memperkenalkan tokoh-tokoh sentral.
Tokoh-tokoh tersebut memiliki banyak peran di dalam cerita, diantara tokoh yang
sangat sentral yaitu pemuda berusia 27 tahun yang bernama Karang.
Bagian awal merupakan
awal cerita. Awal dari segala pengisahan dengan menampilkan Bunda (nyonya HK)
dengananknya Melati yang mengidap tunawicara dan kebutaan. Kedua tokoh tersebut
yang membangun kisah-kisah. Kisah pertemuan kedua tokoh utama (Bunda dan
Melati) diceritakan pada keeping ke 2.
Dari proses pertemuan
itu muncul keinginan Bunda untuk menyembukan penyakit anak sematawayangnya,
Melati. Ia berusaha keras mencari penyembuhan demi ksembuhan anaknya. Hingga
akhirnya pilihan terakhirnya jatuh pada seorang anak pemuda yang yang dekil dan
tukang pmabuk yang diharapkan mampu menyembuhkan ankanya. Kisah inilah sebagai
titik tolaj terjadinya konflik yang dibangun Tere Liye.
“Anakku, seseorang yang menyebut
dirimu bagai malaikat di mata anak-anak… Kehadiranmu selalu membuat mereka
bersennadung riang, kehadiran yang bisa mneciptakan ‘keajaiban’.. Meski amat
malumnegakuinya, harus kami hilang, kami sudah sangat berputus asa.. Berputus
aas atas keterbatasan putri tunggal kami. Maukah kau berkenan membantu? Membagi
keajaiban itu. Kami mohon dengan segala kerendahan hati.” (hal.75)
Konflik yang
ditampilkan Tere Liye adalah jenis psychological
conflic. Konflik batin dari masing-masing tokoh cerita karena memiliki prespektif
yang berbeda, tidak sedikit pula yang bertentangan sebgaaimana mestinya. Terutama
yang terjadi pada tokoh Melati yang memiliki keterbatasan, sehingga kerap kali
ia mengalami konflik dengan dirinya sendiri. Selain itu, ada konflik batin dari
tokoh Karang tentang masa lalunya yang hingga kini masih menyimpan trauma yang
teramat pedih hingga sulit untuk disembuhkan.
Klimaks dari kisah ini
mneimbulkan komplikasi kepada tokoh tambahan, pak HK ayah Melati. Ia yang
mulanya menentang anaknya disembuhkan oleh pemuda pemabuk yang hidupnya bernatakan,
juga adanya penolakan dari pemuda tersebut untuk membantu menyembuhkan Melati
dikarenakan ada trauma dengan masa lalunya yang masih belum bisa ia sembuhkan.
Sampai akhirnya tuan HK bersedia nakanya disembuhkan oleh Karang dan Karangpun
bersedia untuk mneyembhkan anaknya.
Titik penyelesaian
konflik batin berakhir pada proses penyembuhan Karang yang diberikan kepada
Melati pelan-pelan mulai mnedapatkan hasil. Melati mulai mampu melihat
benda-bend ayang ada disekitarnya, Ia tak lagi brutal dengan dirinya sendiri.
Ia mulai mampu beradaptasi dnegan dirinya dan mampu mengendlaikan dirinya sendiri.
“Seminggu terakhir kemajuannya
snagat mengagumkan. Melati bahkan bisa memakai baju sendiri, pergi ke kamar
mandi sendiri, mengambil mangko maknannya snediri, menyendok supjagungnya
sneidiri. Ia memksa melakukannya senidiri.” (hal. 344)
Plot berakhir pada
suatu pemecahan bahw akanak-kanak brumur enam tahun, kanak-kanak yang buta,
tuli seklaigus bisu itu. Kanak-kanank yang seolah-olah dunia terputus darinya,
baru saja mengatakan kalimat indah “Bunda met bobo juga.. Moga Bunda disayang
Allah..”
Dapat dismpulkan bahwa jenis plot bahwa
jenis plot yang digunakna; jika ditinjau dari:
a. Penyusunan,
beplot kronologis divariasikan dnegan laur regresif.
b. Kwantitasnya,
plot jamak.
c. Kwalitasnya,
plot longgar.
d. Akhir
cerita, plot terbuka.
3.
Tokoh dan Penokohan
1)
Melati
Melati merupakan tokoh utama dalam novel
Moga Bunda Disayang Allah. Ia adalah sosok anak yang periang, lucu, dan suka bercanda.
Disebabkan Melati kehilangan indera penglihatan dan pendengarannya, maka
aksesnya dengan dunia sekitar pun harus terputus, hal tersebut membuat Melati
terlihat seperti menjadi keras kepala. Berikut disajikan petikan yang menggambarkan
watak Melati:,
· Watak
periang, lucu dan suka bercanda
“Bunda, bangun! Sudah pagi…” Melati
berseru sambil melompat riang ke atas rangjang ukurang king-size. Tertawa”
(hal. 4)
“Bunda, bangun! Bunda Kesaingan, nih!” Jahil!
Melati menarik selimut bundanya. Berteriak lagi. Merangkak lebih dekat.
Mengeluarkan sehelai bulu ayam (yang diperoleh kemaren dari Mang Jeje, tukang
kebun). Jahhil!” (hal. 5)
“Bunda, mikir apa? Melati menyeringai. Memutus lamunan.” (hal. 6)
· Watak
keras kepala
“BA….BAAA…..MAAA” Berteriak lagi.
Melati memukul-mukul meja dekat ranjang. Menarik ganggang telepon. Melemparnya
sembarangan. Rambut ikalnya bergoyang-goyang. Baju tidurnya berantakan.
Tangannya seperti moncong tapir yang mencari-cari semut di dalam lubang pohon,
bergerak-gerak, menjalar tidak terkendali.” (hal. 14)
2) Bunda
Bunda adalah soosk yang
menjadi ibu dari Melati. Tokoh Bunda sanhgat keibuan. Ia merawat Melati dengan
penuh kasih sayang dan kesabaran. Tokoh Bunda adalah salah satu tokoh dominan,
dan merupakan tokoh protagonist yang sangat sabar, tabah, penyayang, dan tulus.
Awalanya anaknya seorang putrid yang ceria
dan manja semnejak tiga tahun lalu, saat bermain ditepi pantai anaknya terkena
piringan terbang dan hilang smeua kecerian itu. Sejak mengetahui kalau anaknya caccat
tital perasaannya sangat sedih. Bunda selalu sabar menghadapi anaknya yang
semakin hari semakin menjadi-jadi. Bunda selalu berjuang dmei kesembuhan
ankanya. Bunda juga juga tak henti-hentinya berdoa kepada Allah agar ankanya
bisa sembuh. Dari dokter biasa sampai dokter ahli sudah ia datangkan untuk
mneyembuhkan anaknya. Tapi, tidak juga berhasil. Bunda hanya mendaoatkan perkataan
yang tidak menyenangkan dari dokter dan orang-ornag ahli, mereka mengatakan kalau anaknya gila.
Mendengar kata-kata itu pastinya sangat menyakitkan perasaannya. Ia tak tahu harus
meminta bantuan kepada siapa lagi.
Akhirnya Karang datang
kerumah Bunda HK, dia ingin mencoba membantu Melati. Namun belum juga ada
hasilnya. Tapi, kesabaran manusia juga ada batasnya. Itukah yang dialami oleh Bunda
HK. Ia sudah putus asa karena puterinya tak kunjung ada perubahan. Bunda HK pasrah
dnegan takdir yang telah diberikan kepadanya.
“Berjuanglah, Anakku! Bunda mohon.
Jnagan menyerah! Bunda berbisisk senyap. Ttertunduk.” (hal. 83)
“Kau mungkin benar, Anakku.
Janji-janji itu juga mungkin benar…tapi aku sudah amat lelah..sudah amat
penat…setiap malam bersimpuh, berharap, emngirimkan beribu kata doa, tapi tetap
tak kunjung ada kabar baiknya. Mungkin semua memang harus berakhir seperti
ini..” (hal.170)
3) Karang
Berdasarkan data yang
diperoleh, salah satu tokoh yang juga dominan adalah tokoh Karang. Karang
adalah totkoh yang kasar, tokoh yang keras, tokoh yang atngguh, tokoh yang jorok,
tokoh yang paling dibenci Tuan HK. Seornag pemuda yatim piatu dan miskin.
Dulu Karang mempunyai
taman bacaan untuk anak-anak yang gemar membaca. Ketika Karang dan anak-anak muridnya
berlibur, akapl yang mereka tumpangi karam dan 18 anak muridnya meninggal.
Sejak kejadian itulah Karang lebih suka menyendiri, tidak suka mengurus badan
dan suka mabuk-mabukan. Dia sangat jorok, sikapnya juga sangat kasar, keras dan
suka semaunya sendiri. Awalnya dia tidak mau membantu Melati, tetapi entah
kenapa dia berubah pikiran akhirnya Karang datang ke kediaman Tuan HK dan Bunda
HK. Karang sangat kasar membantu Melati. Tapi disi lain dia memiliki sifat yang
tangguh. Meskipun ia dibenci, dihina Tuan HK dan diusir dari rmah mereka,
dia memohon waktu 21 hari kepada Bunda HK.Dia yakin kalau dia bisa membantu
Melati, dia tetap bertahan dan tetap ingin membantu. Jika did alam waktu 21 hari
tiidak juga ada perubahan dari Melati dia yang akan pergi sendiri dari rumah
itu. Memang jelek fisiknya tapi mulia hatinya.
“Benarlah. Jika kalian sedang
bersedih, jika kalian sedang terpagut masa lalu menyakitkan, penuh penyesalan
seumur hidup, salah satu obatnya adalah dengan menyadari masih banayk orang
lain yang tidak lebih bevuntung disbanding kita. Itu akan memberikan pengertian
bahwa hidup ini belum berakhiar. Itu akan membuat kita selalu meyakini setiap
satu makhluk berhak atas satu tujuan.” (hal.172)
4) Kinasih
Kinasih adalah tookoh
yang jarang muncul di dalam citraan namun memiliki peran yang besar dalam
mengubah sosok Karang. Kinasih diganbarkan sebagai sosok gadis yang ramah,
lemah lembut, dan penyayang. Dia selalu menyayangi Bunda HK agar tidak mudah
menyerah menghadapi keterbatasan Melati. Dia juga yakin kalau Melati bisa
disembuhkan.
“Melati akan baik-baik saja,
Bun..jika Bunda tetap yakin, maka ia pasti
akan baik-baik sja.” Kinasih berbisik pelan. Tersenyum. Memotong cerita
dua hari lalu. Mencoba membesarkan hati.”
5) Salamah
Salamah adalah salah
satu tokoh yang juga selalu muncul dalam
cerita. Sosok Salamah digambarkan sebagai seorang pembantu yang setia terhadap
majikannya. Ia sangat menyayangi keluarga HK. Salamah yang memiliki watak protagonist juga digambarkan
sebagai seorang pembantu yang pelupa, namun sangat cekatan dalam bejerja.
6) Tuan
HK
Berdasarkan hasil
analisis novel Moga Bunda Disayang Allah. diperoleh data sosok Tuan HK yang meruapakan
ayah dari Melati. Ia adalah sosok yang snagat menyayangi keluarganya, tegas,
pekerja keras, dan juga pengusaha sukses.
7) Ibu-ibu
Gendut
Berdasarkan data yang
diperoleh, Iby-ibu Gendut adalah sosok yang telah membesarkan Kaang. Karang
selalu diajarkan oleh suaminya yang membuka rumah singgah. Sosoknya diganbarkan
sebagai seoarang yang snagat lembut,
penuh kaish sayang, dan penyeabar. Ia juga berperan pentung dalam mengubah
sifat dan sikap Karang.
8) Suster
Tya
Sudter Tya adalah tokoh yang emnjadi
perawat Melati sebelum Melati bertemu dnegan Karang. Ia hanya seklai muncul did
lama cerita. Sosoknya diganbarkan masih ragu-ragu dlaam menjaga Melati, dan
belum paham benar apa hal yang paling tidak disukai oleh Melati.
“Ibu-ibu Gendut tertawa pelan,
“tidak. Kau bukan orang lian bagiku Karang!” (hal.59)
“Ibu-ibu Gendut menelan ludah, berkata
pelan, “Kau tahu, anak yang memrlukan bantuanmu, Karnag. Surat itu bilang,
Mereka membutuhkanmu.” (hal.6)
4.
Setting/Latar
1)
Tempat:
Dalam novel Moga “Moga Bunda
Disayang Allah” secara umum menceritakan kehidupan sebuah kota yang sangat
padat yang berdekatan dengan pantai. Pemilihan
setting ini secara teknis bertujuan untuk mengeokohkam imaji novel itu sendiri.
Tidak dapat dipungkiri bahwa penentuan latar berkaitan secara fungsional denagn
para tokoh cerita.
Barangkali sulit untuk
menemukan tempat yang eksotis seperti rumah mewah, apavteman kantor perusahaan
multi nasional di kota dekat pantai yang notabenpenduduknya bermatapencaharian
sebagai nelayan. Serta lingkungan yang memungkinkan para tokoh cerita melakukan
aktivitasnya.
Hal itupun tidak
mutlak, sebab mamsih terkandung juga latar tempat bertipe netral seperti rumah,
gang-gang sempit di pemukiman, pelabuhan, pabrik, toko lelang ikan, laut, dan
tempat lain yang tidak memiliki kaitan,
hanya menjelaskan tempat mana peristiwa itu berlangsung.
2) Latar
Waktu
Kisah yang ditampilkan
pada novel “Moga Bunda Disayang Allah” berlangsung dlaam kurun waktu yang tidak
runtut. Setting waktu digunakan secara bervariasi dan bergantian secara sinergis.
“Sayang sejak tiga tahun terakhir,
sisa-sisa kecantikan masa muda Bunda terhapus oleh getirnya kenyataan.
Rambutnya memutih. Satu dua malah lebih cepat tereliminasi oleh kurangnya
kriman sms eh perawatan, ding, alias rontok.” (hlal.8)
Kutipan diatas merupakan
penentuan waktu mundurdalam menceritakan salah satu tokoh yang bertujuan untuk
menjelaskan latar belakang perilaku tokoh cerita. Hal ini bukan berbicara
masalah plot, namun berkaitan dengan penetapan latar waktu secara difus dan fragmentesis.
“Langit kelam. Petir menyambar.
Ombak bergelombang susul-menyusul menghantam perahu nelayan kapasitas empat
puluh orang itu. Sialnya angin yang menderu-deru membuat semakin kelam dan
tegang suasana.” (hal. 22)
3) Latar
Sosial Budaya
Kehidupan kota pada
novel ini yang memiliki kompleksitas tinggi pada penghuninya. Mulai dari
kehidupan nelayan yang penuh perjuangan dan usaha keras ketika melaut, suasana
kota yang nyaman, dan suasana kota yang indah nan elok karena berdekatan dengan
pantai. Hal ini seperti yang dituangkan oleh penulias pada prolog cerita.
“Apalagi hendak diucap, kota ini
elok nian di pelupuk mata. Begitu indah ketika semburat matahari muncul
dikejauhan horizon cakrawala. Membuat jingga hamparan laut yang beriak tenang.
Burung cemr melemhking mengisi senyapnya udara pagi. Ombak pelang
menggulungbibir pantai. Buih membasuh butiran pasir yang halus bagai es krim
saat diinjak.” (hal.3)
“Kota ini tidak kecil, juga tidak
besar. Satu diantara belasan kota khas pelabuhan pesisir selatan yang nyaman.”
(hal. 4)
5. Sudut
Pandang
Sudut pandang yang
digunakan penulis pada novel “Moga Bunda Disayang Allah” adalah suudut pandang
orang ketia serba tahu. Hal ini dikarenakan penulis memposisikan diri sebagi
penulis cerita atau tidak terlibat langsung dalam cerita. Dikatakan serba tahu
karena daam novel tersebut menceritakan kehidupan Melati selaku tokoh utama dari
lahir hingga dari kehidupannya yang mendapat keajaiban berupa kondisi tubuh
yang seperti semula. Untuk memeperkuat data, bisa dilihat pada kutipan berikut.
“Ibu-ibu gendut itu berduri…Hanya
memperhatikan” (hal.21)
6. Diksi
dan Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah alat utama pengarang
untuk melu(kiskan, menggambarkan, dan menghidupkan cerita secara estetika (Rustamaji
dalam Koasih, 2003: 257). Secara
umum, novel “Moga Bunda Disayang Allah” menggunakan gaya bahasa atau diksi yang
dpaat diklasifikasikan sebagai berikut.
1) Parabola
Bisa dilihat pada kutipan berikut.
“Mungkin kutunya sudah
beranak-pinak lima generasi.” (hal.11)
2) Mtafora
Majas atau gaya bahasa metafora pada
novel “Moga Bunda Disayang Allah” dapat dilihat melalui salah satu contoh
kutipan berikut.
“Rambut ikal Melati mengombak.
Pipinya tembam macam donat. Bola matanya hitam-legam seperti biji buah leci.
Dan giginya kecil-kecil bak gigi kelinci.” (hal.4)
3) Personifikasi
Burung gelatik tetap asyik
bercengkrama di hamparan rumput taman.”(hal.108)
‘
7. Amanat
Amanat yang terkandung pada novel tersebut,
dapat dibedakan menjadi tiga segmen sebagai berikut.
1) Tersirat
Setiap orang pasti punya kekurangan .
Jangan sampai kekurnagan itu menjadikan kita
berputus asa. Terus bersaha dan jangan mneyerah, selama kita mau berusaha
pasti disitu ada jalan.
2) Tersurat
Kita harus bersabar dan terus berdoa agar
yang kita inginkan akan dikabulkan.
3) Cintailah
anak-anak. Bukan karena mereka terlihat menggemaskan, tapi karena menyadari
janji kehhidupan yang lebih baik setelah tergenggam di tangan anak-anak.
3.2.
Nilai-Nilai Kehidupan
1. Nilai
Kesabaran
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye ini nilai kesabaran terdapat
pada tokoh Bunda HK. Dengan berbagai upaya telah Bunda lakukan untuk kesembuhan
Melati, baik mengikuti pengobatan berbagai dokter maupun ahli terapi lainnya
namun belum juga ada kemjauan dari Melati. Meskipun belum ada kemajuan dari
Melati. Meskipun belum ada kemajuan dari Melati, Bunda terus berjuang dan tak
henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan anaknya. Setiap hari Bunda HK selalu
sabar menghadapi anaknya yang setiap kali disuruh makan, Melati hanya
mengacak-acak makanannya dan membanting semuanya.
2. Nilai
Religius
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah ini nilai religius terdapat pada tokoh
Bunda HK. Setiap malam Bunda sellau berdoa memohon kepada yang Maha Esa untuk
kesembuhan Melati anak semata wayangnya agar bisa merasakan kebahagiaan seperti
anak lain rasakan.
3. Nilai
Tolong-Menolong
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye ini nilai tolong-menolong
terdapat pada tokoh Karang. Akhirnya Karang mau menolong Melati yang buta,
tuli, dan bisu. Karang selalu berusaha membantu
Melati agar dia bisa merasakan kebehagaian yang anaik lain rasakan. Karang
memhon dan meminta waktu 21 hari kepada
Bunda agar dia bisa membantu Melati. Karang
berjanji dia akan berubah menjadi lebih baik lagi, tidak ada kekerasan dan
minuman keras lagi. Kalau selama 21 hari Melati belum juga ada perubahan, Karang
sendiri yang akan pergi dari rumah itu.
4. Nilai
Pekerja Keras
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye ini nilai pekerja keras
terdapat pada tokoh Tuan HK. Tuan HK selelu berpergian keluar kota untuk bekerja.
Sampai-sampai Tuan HK kurang memperhatikan keadaan anaknya. Setiap sebulan
sekali Tuan HHK selalu keluar kota bahkan keluar negeri.
5. Nilai
Kesetiaan
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere
Liye ini nilai kesetiaan terdapat pada tokoh Salamah pembantu Tuan HK dan Bunda
HK. Salamah sangat setia terhadap keluarga Tuan HK, sampai-sampai dia tidak memikirkan
untuk menikah. Dia hanya ingin bersama keluarga Tuan HK.
6. Nilai
Pendidikan
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere
Liye nilai pendidikan terdapat pada tokoh Kinasih dan Karang.
Kinasih orangnya pintar,
dan dia menjadi dokter seperti ayahnya, sedangkan Karang seorang anak yatim
piatu yang diangkat oleh sepasang suami istri yang mempunyai taman bacaan. Karang
tumbuh menjadi anak yang sangat membanggakan. Dia melanjutkan pendidikannya
keluar ibukota.
D.
Nilai Kehidupan yang Terkandung dalam Novel Moga Bunda Disayang Allah
Niali kehiudpan yang terkandung
dalam novel Moga Bnda Disayang Allah dengan kegigihan yang dimiliki oleh Bunda
dalam memperjuangkan kesembuhan Melati. Tuan HK yang kurang peduli terhadap
Melati. Dengan melakukan berbagai uapaya penyembuhan, baik mengikuti dokter
maupun ahli terapi lainnya. Hal ini mnagajarkan nilai-nilai perjuangan dalam
menjalani pengobatan untuk terus berusaha dan berjuang dalam menjalani
pengpbatan, meskipun hasilnya belum memadai namun Bunda HK terus berjuang dan
dusahakan untuk penyembuhan. Akhirnya Kinasih menyarankan Bunda untuk
mendatangkan guru privat, yaitu Karang. Bunda berharap Karang bisa menyembuhkan
Melati.
Awalnya Karang menolak
permohonan Bunda, tapi akhirnya Karang berubah pikiran dia mau membantu Melati.
Melati selalu saja memberontak dan
menolak untuk diajari. Karang sangat kasar dan ternyata juga pemabuk. Melihat
Karnag yang kasar dan ternyata juga pemabuk, Tuan HK agamengusir Karang. Tapi Karang tidak inigin
pergi, dia ingin tetap membantu Melati. Karang memohon agar dikasih waktu 21 hari
kepada Bunda agar bisa membantu Melati. Karang berjanji dia akan berubah
memnjadi lebih baik lagi, tidak ada kekerasan dan minum keras lagi. Kalau
selama 21 hari Melati belum ada perubahan, Karnag sendri yang akan pergi dari rumah
itu. Pada awalnya Karang kesulitan untuk mengajari Melati. Karena itu Karnag
mencaru cara untuk dapat berkomunikasi dengan Melati. Tidaks sengaja Karang
melihat Melati sedang bermain air di halamn rumah, dan disitulah Karang pun
tahu kalau Melati bisa merasakan sesuatu melalui telapak tangannya. Dengan cara
tersebut, akhirnya Karang bisa membantu Melati menghubungkan kedunianya lagi.
Akhirnya Melati dapat pulih, bahkan anak yang bisu, tuli dan buta dan dianggap
gila itu bisa mendoakan ibunya “met bobo Bunda…Moga Bunda Disayang Allah”
sebuah doa yang tidak terduga.
BAB
IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Melati yang ceria
ba-tiba bisu, tuli, dan buta akibat terkena piringan tarbang. Melati menjadi
anakyang frustasidan pemberontak. Bunda HK berjuang untuk kesembuhan ananknya.
Suatu ketika Bunda sampai merasa putus asa. Dalam keputus asan itu ada yang
menyarankan untuk meminta bantuan Karang.
Karang semula menolak yang alasannya dokter saja tidak bisa mneyembuhkakn
apalagi dia. Tapi Karang berubah pikiran, ia mengabulkan permintaan Bunda HK
yang tidak menyukai Karang karena pemabuk, jorok, kasar. Tapi Karang memohon
bahkan sampai seperti mengemis agar diberi waktu demi kesembuhan Melati. Akhirnya
Melati dapat pulih kembali.
4.2
Saran
1.
Novel Moga Bunda Disayang Allah dapat
digunakan sebagai referensi bagi peneliti lain untuk melanjutkan penelitian
yang lebih dikembangkan khususnya nilai kehidupan karen anovel ini banyak
mengandung nilai-nilai kehidupan.
2.
Bagi para penulis hendaknya sellau
memasukkan nilai-nilai kehidupan yang bermamnfaat agar karyanya tidak hanya berguna
sebagai hiburan saja namun juga dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi.
3.
Bagi pembaca, novel sangat disarankan karena
banyak menceritakan kehidupan soaial dan banyak memberikan nilai-nilai
kehidupan.
DAFTAR ISI
Abrams, M.H.
1981. A Glossary of Literary Terms.
New York: Harcourt, Brace 7 World, Inc.
Liye,
Ter. 2006. Moga Bunda Disayang Allah.
Jakarta Selatan: Republika Penerbit University Press.
Nurgiyanto,
Burhan.1995. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Salam. 2000. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.
Teeuw a. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta:
Gramedia.