Kamis, 16 Mei 2019

WACANA DAN BUDAYA

WACANA DAN BUDAYA

Rangkuman 
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik 
Semester IV

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd





Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PASURUAN 2019

WACANA DAN BUDAYA

Wacana merupkan satian bahasa paling besar yang digunakan dalam komunikais. Dalam situasi komuikasi, apapun bentuk wacananya, aka nada yang namanya penyapa (addressor) dan pesapa (address). Dala wacana lisan, penyapa adalah pembicara, sedangkan pesapa adalah pendengar. Sementara itu, di dalam komunikasi tulis, penyapa adalah penulis, sedangkan pesapa adalah pembaca. 

Secara umum, ada daya tarik yang sangat besar dalam struktur wacana, dengan perhatian khusus terhadap sesuatu yang dapat membentuk konteks dengan baik. Menurut Haliday dan Hasan (1994: 72), struktur wacana merujuk pada struktur yang menyeluruh, struktur global bentuk pesannya. Dalam prespektif structural ini, fokus ada pada topic, misalnya hubungan eksplisit antar kalimat dalam teks yang mencptakna suatu kohesi, atau unsur-unsur susunan tua. Akan tetapi dalam studi tentang wacana, prespektif pragmatik lebih dikhususkan. Dalam pragmatic wacana, juga tidak bisa menghindar untuk menggali apa yang ada dipikiran penutur atau penulis.

Secara umum, apa yang ada di dalam benak pemakai bahasa sebagian besar adalah asumsi koherensi, yaitu apa yang dikatakan atau apa yang dituliskan mnegandung arti sesuai dnegan pengalaman normal mereka. Penkenana pada keakraban dan pengetahuan sebagai dasar koherensi itu perlu karena terbukti bahwa kitavcenderung membuat penafsiran seketika terhadap materi yang dikenal dan cenderung tidak memperhatikan kemungkinan alternatif lain. 

Kemampuan kita untuk sampai pada penafsiran yang otomatis terhadap sesuatu yang tidak tertulis dan tidak terucapkan harus berdasar pada satu struktur pengetahuan awal yang ada. Struktur ini berfungsi seperti pola-pola akrab dari pengalaman-pengalaman lama yang kita gumakan untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman umur. Istilah yang paling umum untuk pola jennis ini ialah skema. Skema ialah struktur pengetahuan sebelumnya yang ada dalam ingatan.

Setiap orang pasti memiliki pengalaman yang mengejutkna apabila sebgaain dari kompnen peristiwa yang diasumsikan itu hilang tak terduga. Hmapir tidak dapat dihindarkan bahwa struktur pnegetahuan latar belakang kita, schemata kita untuk mengartikan dunia, akan ditentukan secara budaya. Studi perbedaan-perbedaan harapan berdasarkan skemata budaya merupakan bagian dari ruang lingkup yang luas yang umumnya dikenal sebagai pragmatic lintas budaya. Jika kita memiliki harapan pada semua pengembangan kapsitas komunikasi lintas budaya, kita harus mencurahkan perhatian lebih banyak pada pemahamann tentang sesuatu yang menjadi ciri logat pragmatic, tidak hanyan ada pada pemahaman logat pragmatik milik orang lain, tetapi juga pemahaman logat pragmatik kita sendiri. 

Kamis, 09 Mei 2019

STRUKTUR PERCAKAPAN DAN STRUKTUR REFERENSI

STRUKTUR PERCAKAPAN DAN STRUKTUR REFERENSI

Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd





Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PASURUAN 2019

STRUKTUR PERCAKAPAN DAN STRUKTUR REFERNSI

Struktur percakapan merupakan apa saja yang sudah diasumsikan sebagai suatu yang sudah dikenal baik melalui diskusi sebelumnya. Dalam analisis percakapan, ada banyak kiasan yang yang digunakan untuk menerangkan struktur percakapan. Struktur percakapan di dalamnya termuat beberapa model analitik, diantaranya jeda, overlaps, dan backchannel, gaya bicara, dan pasangan ajasesnsi.

Sebagian besar percakapan melibatkan 2 peserta atau lebih dalam pengambilan giliran, dan hanya satu orang yang berbicara pada saat itu. Jeda yang sangat pendek merupakan bentuk keragu-raguan, sedangkan jeda yang panjang menjadi kesenjangan. Berbeda dengan jeda, tipe overlap merupakan bagian dari kesulitan percakapan awal yang sederhana dengan orang yang belum dikenal. Ada jenis-jenis overlap yang ditafsirkan berbeda. Pada pembicara yang masih muda, pembicaraan overlap muncul pada fungsi pemakaian bahasa seperti pada ungkapan kesetiakawanan atau keakraban pada waktu mengungkapkan gagasa atau nilai kebersamaan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memberikan respon adalah dengan cara anggukan kepala, senyuman, ekspresi wajah dan isyarat-isyarat lain. Indikasi vokal yang paling umum disebut backchannel signals (penanda hubungan akhir) atau singkatnya disebut dengan backchannel. Di dalam backchannel, ada tiga hal yang tidak dapat terpisahkan, diantaranya tanda, penanda, dan petanda. Tanda yang dimunculkan bukan hanya sekedar struktur dalam kalimat. Lebih luas dari itu pragmatik membahasa tentang tanda yang berhubungan dengan konteks. Dimana tanda bisa dipengaruhi oleh sitiasi dan kondisi saat bertutur.

Disamping perbedaan gaya, kebanyakan penutur kelihatannya mendapatkan cara untuk mengatasi kesibukam interaksi sosialnya sehari-hari. Dalam prosesnya, mereka dibantu oleh fakta-fakta bahwa banyak pola yang hampir otomatis dalam struktur percakapan. Salah satu tata urutan dalam percakapan adalah pasangan ajensi. Pasangan ini terdiri atas bagian pertama dan bagian ke dua yang dituturkan oleh dua orang penutur yang berbeda. Di dalam pasangan ajensi, terdapat pula tata urutan sisipan. Tata ururan sisipan adalah pasangan ajensi yang berada diantara pasangan ajensi lain.

Struktur preferensi dipakai untuk menunjukkan pola struktural tertentu secara sosial dan tidak mengacu pada sikap seseorang atau keinginan emosi. Dalam struktur preferensi bagian kedua ini dibagi menjadi dua, tindakan sosial yang disukai dan tindakan sosial yang tidak disukai. Secara struktural tindakan yang disukai diharapkan ada pada tindakan berikutnya dan tindakan yang tidak disukai diharapkan tidak ada pada tindakan berikutnya. 

Kamis, 02 Mei 2019

KESOPANAN DAN INTERAKS


KESOPANAN DAN INTERAKSI

Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd





Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PASURUAN 2019

KESOPANAN DAN INTERAKSI
Interaksi linguistik pada dasarnya memerlukan interaksi sosial. Kita harus memperhatikan berbagai macam faktor yang berkaitan dengan kesenjangan dan kedekatan sosial. Tujuannya agar apa yang kita katakan dalam interaksi tersebut dapat bermakna. Faktor-faktor ini terbentuk khusus melalui suatu interaksi selain karena faktor luar juga. Faktor-faktor ini khususnya melibatkan status terlibat partisipan, dan berdasarkan nilai-nilai sosial yang mengikatnya. Selain faktor tersebut, adapula faktor-faktor lain seperti jumlah imposisi atau derajat kekerabatan yang sering dipertimbangkan selama terjadi interaksi. Kedua tipe faktor ini yaitu, eksternal dan internal yang mempunyai pengaruh tidak hanya pada apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana kita menginterpretasikan.
Dalam interaksi lingusitik, kita memperlakukan kesopanan sebagai suatu konsep tegas, seperti gagassn 'tingkah laku sosial yang sopan', atau etiket, terdapat dalam budaya. Didalam interaksi, ada tipe khusus kesopanan yang lebih sempit di dalam tempat kerja. Untuk mendeskripsikannya, kita memerlukan konsep wajah. Sebagai istilah teknis, wajah merupakan pribadi seseorang dalam masyarakat. Kesopanan dalam suatu interaksi dapat didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang lain. Dalam tipe pendekatan ini, akan ada jenis kesopanan yang berbeda yang diadosiasikan dengan asumsi jarak kesenjangan dan jarak kedekatan sosial kekerabatan (dan ditengarai secara linguistik).
Partisispan yang terlibat dalam interaksi tidak tinggal dalam satu konteks yang sudah menciptakan hubungan sosial yang pasti secara keras. Ada macam-macam cara untuk menampilkan tindak penyelamatan wajah. Pada saat kita berusaha untuk menyelamatkan wajah orang lain, kita dapat memperhatikan keinginan wajah positif atau negatif mereka. Wajah negatif adalah kebutuhan untuk merdeka. Sedangkan wajah positif seseorang ialah kebutuhan untuk dapat diterima. Jadi tindak penyelamatan wajah yang diwujudkan pada wajah negatif seseorang akan cenderung untuk menunjukkan rasa hormat.
Salah satu cara untuk melihat relevansi hubungan antara konsep kesopanan dengan pemakaian bahasa ialah mengambil peristiwa tutur tunggal dan merencanakan anggapan yang berbeda yang diasosiasikan dengan memungkinkan ekspresi yang berbeda yang dipakai dalam peristiwa itu. Strategi kesopanan positif mengarahkan pemohon untjk menarik tujuan umum dan bahkan persahabatan dengan menggunakan ungkapan-ungkapan.
Kecenderungan untuk menggunakan bentuk kesopanan positif, dengan penekanan kedekatan antara penutur dan pendengar, dapat dilihat sebagai suatu strategi kesetiakawanan. Kecenderungan untuk menggunakan bentuk kesopanan negatif, dengan menekankan pada hak kebebasan pendengar, dapat dilihat sebagai suatu strategi penghormatan. Bahasa yang diasosiasikan dengan strategi penghormatan menekankan kebebasan penutur dan pendengar, yang ditandai dengan kekosongan tuntutan pribadi.