ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA DAN BERSASTRA
Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran BI
Semester VI
Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017-B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan
ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA DAN BERSASTRA
Salah satu keterampilan berbahasa yang bisa dijadikan asesmen adalah keterampilan mendengarkan atau menyimak. Hal ini lantaran banyaknya komunikasi sehari-hari yang dilakukan secara lisan. Kemampuan mendengarkan bukan hanya kemampuan untuk mengenal dan membedakan bunyi bahasa saja, juga mendengarkan terkait dengan kemampuan untuk memahami makna suatu bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan.
Penyusunan asesmen kemampuan memndengarkan yang menyangkut aspek kognitif hendaknya dibuat secara berjenjang. Tingkat asesmen kemampuan mendengarkan dimulai dengan asesmen kemampuan mendengarkan pada tingkat ingatan,, diikuti dengan asesmen kemmapuan mendengarkan tingkat pemahaman, asesemen mendengarkan ingkat openerapan, asesmen mendengarkan tingkat analisis, asesmen mendengarkan tingkat sintesis, dan asesmen mendengarkan tingkat evaluasi. Adapun bentuk asesmen mendengarkan yang bisa dilakukan diantaranya identifikasi peristiwa atau kejadian, identifikasi tema cerita, identifikasi topik percakapan, menjawab pertanyaan, dan sebagainya.
Selanjutnya adalah asesmen keterampilan berbicara. Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Sebagai bagian dari kemmapuan berbahasa yang aktif-produktif, kemampuan berbicara menuntut penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa. Dalam tes keterampilan berbicara yang mementingkan isidan makna dalam penyampaian pesan secara lisan, berbagai bentuk dan cara dapat digunakan. Bentuk pengajaran berbicara dapat bersifat terkendali dengan isi dan jenis wacana yang dtentukan atau dibatasi, atau dapat bersifat bebas bergantung pada keinginan dan kreativitas pembaca. pengajaran tersebut diantaranya berbicara singlet berdasarkan gambar, wawancara, menceritakan kembali, dan sebagainya.
Selain mendengarkan dan berbicara, keterampilan berbhasa selanjutnya adalah membaca. Program pembelajaran membaca bertujuan untuk menambha kecepatan dan memperbaiki pemahaman, mengajar siswa bagaimana mnegadaptasi membaca dengan variasi bahan bacaan, dan menuntut siswa mngembangkan diri melalui membaca dalam jumlah yang banyak. Intinya, pembelajaran membaca dapat pada proses membaca itu sendiri, dan dapat pula pada hasil yang dicapai melalui kegiatan membaca tersebut. Jenis-jenis membaca yang bisa dilakukan antara lain, membaca literal, membaca interpretatif, dan membaca kreatif/kritis.
Keterampilan berbahasa yang terakhir adalah menulis. Untuk mnegetahui kemampuan menulis seseorang diperlukan adanya asesmen dengan menggunakan alat ukur tes menulis. Tes menulis dapat dilakukan denagn bebrapa pendekatan, antara lain pendekatan diskret, pendekatan integrative, dan pendekatan pragmati atau komunikatif. Seperti halnya kemampuan berbicara, tidak mudah untuk melkaukan perbedaan kemmapuan menulis ke dalam tingkatan-tingkatan kognitif. Asesmen kemampuan menulis dapat dibuat dalam beberapa bentuk, diantaranya tes unsure-unsur kemampuan menulis, menulis reproduksi, dan menulis produksi.
Selain keterampilan berbahasa, ada juga asesmen dalam aspek kesastraan. Asesmen penguasaan aspek kesustraan dapat disusun secara bertingkat mylai dari tingkat ingatan sampai evaluasi. Penilaian unjuk kerja siswa sebagai hasil pemebelajaran juga dilakukan melalui keempat kemampuan bahasa tersebut, baik secara aktif-reseptif maupun aktif-produktif. Adapun keterampilan-keterampilan yang bisa digubakkan untuk asesmen kesusastraan diantaranya asesmen keterampilan mendengarkan, asesmen keterampilan berbicara, asesmen keterampilan membaca, dan asesmen keterampilan menulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar