KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR
Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV
Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP
PGRI PASURUAN 2019
KERJA
SAMA DAN IMPLIKATUR
Implikatur merupakan
percakapan yang mengandung proporsi tersirat. Implikatur memmiliki fungsi
pragmatis terselebung yang keberadaannya terimplikasi dari tuturan yang
sebenarnya. Fungsi implikatur secara keseluruhan terbagi menjadi lima kategori,
yaitu menyatakan, menyuruh, memuji, berjanji, dan membatalkan. Hal-hal yang
perlu diperhatikan berkaitan dengan implikatur, diantaranya adalah implikatur
bukan merupakan bagian dari tuturan, implikatur bukan akibat logis dari
tuturan, dan sebuah tuturan memungkinkan memiliki lebih dari satu implikatur
dan itu bergantung pada konteksnya.
Implikatur secara umum
dibagi menjadi dua macam, yaitu implikatur non konvensional (implikatur
percakapan) dan implikatur konvensional (implikatur non percakapan). Impliaktur
percakapan diderifasi berdasarkan maksim percakapan. Sedangkan implikatur non
percakapan diderifasi berdasarkan konvensi-konvensi tertentu.Implikatur non
percakapan dimarkahi oleh penanda-penanda tertentu, seperti itu, oh, dan
sebagainya.
Implikatur juga
memberikan makna yang berkebalikan dari bentuk ujarannya. Meski implikatur
bentuk mempunyai makna berkebalikan, akan tetapi tidak menimbulkan pertentangan
logika. Dalam tuturan implikatif, penutur dan lawan tutur harus mempunyai
pengalaman yang sama sesuai dengan konteks. Jika tidak, maka akan terjadi kesalahpahaman
atas tuturan yang terjadi diantara keduanya. Dlam hubungan timbal-balik di
konteks budaya kita, penggunaan implikatur terasa lebih sopan, misalnya untuk
tindak tutur menolak, menegur, dan lain-lain. Tindak tutur yang melibatkan
emosi mitra tutur pada umumnya lebih diterima jika disampaikan dengan
implikatur.
Kemampuan untuk
memahami implikatur dalam sebuah tuturan tergantung pada kompetensi linguistik
yang dikuasai seseoramg. Seorang penutur tidak mungkin menguasai seluruh unsur
bahasa karena kompetensi linguistik seseorang itu terbatas. Namun dengan
keterbatasan ini, seorang penutur mampu menghasilkan ujaran yang tidak
terbatas. Seorang penutur dan lawan tutur akan mampu memahami dan menghasilkan
ujaran baru yang benar-benar baru dalam bahasanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar