Kamis, 18 April 2019

KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR


KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR

Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd





Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PASURUAN 2019

KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR
Implikatur merupakan percakapan yang mengandung proporsi tersirat. Implikatur memmiliki fungsi pragmatis terselebung yang keberadaannya terimplikasi dari tuturan yang sebenarnya. Fungsi implikatur secara keseluruhan terbagi menjadi lima kategori, yaitu menyatakan, menyuruh, memuji, berjanji, dan membatalkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan implikatur, diantaranya adalah implikatur bukan merupakan bagian dari tuturan, implikatur bukan akibat logis dari tuturan, dan sebuah tuturan memungkinkan memiliki lebih dari satu implikatur dan itu bergantung pada konteksnya.
Implikatur secara umum dibagi menjadi dua macam, yaitu implikatur non konvensional (implikatur percakapan) dan implikatur konvensional (implikatur non percakapan). Impliaktur percakapan diderifasi berdasarkan maksim percakapan. Sedangkan implikatur non percakapan diderifasi berdasarkan konvensi-konvensi tertentu.Implikatur non percakapan dimarkahi oleh penanda-penanda tertentu, seperti itu, oh, dan sebagainya.
Implikatur juga memberikan makna yang berkebalikan dari bentuk ujarannya. Meski implikatur bentuk mempunyai makna berkebalikan, akan tetapi tidak menimbulkan pertentangan logika. Dalam tuturan implikatif, penutur dan lawan tutur harus mempunyai pengalaman yang sama sesuai dengan konteks. Jika tidak, maka akan terjadi kesalahpahaman atas tuturan yang terjadi diantara keduanya. Dlam hubungan timbal-balik di konteks budaya kita, penggunaan implikatur terasa lebih sopan, misalnya untuk tindak tutur menolak, menegur, dan lain-lain. Tindak tutur yang melibatkan emosi mitra tutur pada umumnya lebih diterima jika disampaikan dengan implikatur.
Kemampuan untuk memahami implikatur dalam sebuah tuturan tergantung pada kompetensi linguistik yang dikuasai seseoramg. Seorang penutur tidak mungkin menguasai seluruh unsur bahasa karena kompetensi linguistik seseorang itu terbatas. Namun dengan keterbatasan ini, seorang penutur mampu menghasilkan ujaran yang tidak terbatas. Seorang penutur dan lawan tutur akan mampu memahami dan menghasilkan ujaran baru yang benar-benar baru dalam bahasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar