Kamis, 02 Mei 2019

KESOPANAN DAN INTERAKS


KESOPANAN DAN INTERAKSI

Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd





Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PASURUAN 2019

KESOPANAN DAN INTERAKSI
Interaksi linguistik pada dasarnya memerlukan interaksi sosial. Kita harus memperhatikan berbagai macam faktor yang berkaitan dengan kesenjangan dan kedekatan sosial. Tujuannya agar apa yang kita katakan dalam interaksi tersebut dapat bermakna. Faktor-faktor ini terbentuk khusus melalui suatu interaksi selain karena faktor luar juga. Faktor-faktor ini khususnya melibatkan status terlibat partisipan, dan berdasarkan nilai-nilai sosial yang mengikatnya. Selain faktor tersebut, adapula faktor-faktor lain seperti jumlah imposisi atau derajat kekerabatan yang sering dipertimbangkan selama terjadi interaksi. Kedua tipe faktor ini yaitu, eksternal dan internal yang mempunyai pengaruh tidak hanya pada apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana kita menginterpretasikan.
Dalam interaksi lingusitik, kita memperlakukan kesopanan sebagai suatu konsep tegas, seperti gagassn 'tingkah laku sosial yang sopan', atau etiket, terdapat dalam budaya. Didalam interaksi, ada tipe khusus kesopanan yang lebih sempit di dalam tempat kerja. Untuk mendeskripsikannya, kita memerlukan konsep wajah. Sebagai istilah teknis, wajah merupakan pribadi seseorang dalam masyarakat. Kesopanan dalam suatu interaksi dapat didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang lain. Dalam tipe pendekatan ini, akan ada jenis kesopanan yang berbeda yang diadosiasikan dengan asumsi jarak kesenjangan dan jarak kedekatan sosial kekerabatan (dan ditengarai secara linguistik).
Partisispan yang terlibat dalam interaksi tidak tinggal dalam satu konteks yang sudah menciptakan hubungan sosial yang pasti secara keras. Ada macam-macam cara untuk menampilkan tindak penyelamatan wajah. Pada saat kita berusaha untuk menyelamatkan wajah orang lain, kita dapat memperhatikan keinginan wajah positif atau negatif mereka. Wajah negatif adalah kebutuhan untuk merdeka. Sedangkan wajah positif seseorang ialah kebutuhan untuk dapat diterima. Jadi tindak penyelamatan wajah yang diwujudkan pada wajah negatif seseorang akan cenderung untuk menunjukkan rasa hormat.
Salah satu cara untuk melihat relevansi hubungan antara konsep kesopanan dengan pemakaian bahasa ialah mengambil peristiwa tutur tunggal dan merencanakan anggapan yang berbeda yang diasosiasikan dengan memungkinkan ekspresi yang berbeda yang dipakai dalam peristiwa itu. Strategi kesopanan positif mengarahkan pemohon untjk menarik tujuan umum dan bahkan persahabatan dengan menggunakan ungkapan-ungkapan.
Kecenderungan untuk menggunakan bentuk kesopanan positif, dengan penekanan kedekatan antara penutur dan pendengar, dapat dilihat sebagai suatu strategi kesetiakawanan. Kecenderungan untuk menggunakan bentuk kesopanan negatif, dengan menekankan pada hak kebebasan pendengar, dapat dilihat sebagai suatu strategi penghormatan. Bahasa yang diasosiasikan dengan strategi penghormatan menekankan kebebasan penutur dan pendengar, yang ditandai dengan kekosongan tuntutan pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar