KESOPANAN DAN INTERAKSI
Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik
Semester IV
Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun
oleh: Dian Wijayanti
NIM:
17188201064
Prodi:
PBSI 2017B
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP
PGRI PASURUAN 2019
KESOPANAN DAN INTERAKSI
Interaksi linguistik pada dasarnya memerlukan
interaksi sosial. Kita harus memperhatikan berbagai macam faktor yang berkaitan
dengan kesenjangan dan kedekatan sosial. Tujuannya agar apa yang kita katakan
dalam interaksi tersebut dapat bermakna. Faktor-faktor ini terbentuk khusus
melalui suatu interaksi selain karena faktor luar juga. Faktor-faktor ini
khususnya melibatkan status terlibat partisipan, dan berdasarkan nilai-nilai
sosial yang mengikatnya. Selain faktor tersebut, adapula faktor-faktor lain seperti
jumlah imposisi atau derajat kekerabatan yang sering dipertimbangkan selama
terjadi interaksi. Kedua tipe faktor ini yaitu, eksternal dan internal yang
mempunyai pengaruh tidak hanya pada apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana
kita menginterpretasikan.
Dalam interaksi lingusitik, kita memperlakukan
kesopanan sebagai suatu konsep tegas, seperti gagassn 'tingkah laku sosial yang
sopan', atau etiket, terdapat dalam budaya. Didalam interaksi, ada tipe khusus
kesopanan yang lebih sempit di dalam tempat kerja. Untuk mendeskripsikannya,
kita memerlukan konsep wajah. Sebagai istilah teknis, wajah merupakan pribadi
seseorang dalam masyarakat. Kesopanan dalam suatu interaksi dapat didefinisikan
sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang
lain. Dalam tipe pendekatan ini, akan ada jenis kesopanan yang berbeda yang
diadosiasikan dengan asumsi jarak kesenjangan dan jarak kedekatan sosial
kekerabatan (dan ditengarai secara linguistik).
Partisispan yang terlibat dalam interaksi tidak
tinggal dalam satu konteks yang sudah menciptakan hubungan sosial yang pasti
secara keras. Ada macam-macam cara untuk menampilkan tindak penyelamatan wajah.
Pada saat kita berusaha untuk menyelamatkan wajah orang lain, kita dapat memperhatikan
keinginan wajah positif atau negatif mereka. Wajah negatif adalah kebutuhan
untuk merdeka. Sedangkan wajah positif seseorang ialah kebutuhan untuk dapat
diterima. Jadi tindak penyelamatan wajah yang diwujudkan pada wajah negatif
seseorang akan cenderung untuk menunjukkan rasa hormat.
Salah satu cara untuk melihat relevansi hubungan
antara konsep kesopanan dengan pemakaian bahasa ialah mengambil peristiwa tutur
tunggal dan merencanakan anggapan yang berbeda yang diasosiasikan dengan
memungkinkan ekspresi yang berbeda yang dipakai dalam peristiwa itu. Strategi
kesopanan positif mengarahkan pemohon untjk menarik tujuan umum dan bahkan
persahabatan dengan menggunakan ungkapan-ungkapan.
Kecenderungan untuk menggunakan bentuk kesopanan
positif, dengan penekanan kedekatan antara penutur dan pendengar, dapat dilihat
sebagai suatu strategi kesetiakawanan. Kecenderungan untuk menggunakan bentuk
kesopanan negatif, dengan menekankan pada hak kebebasan pendengar, dapat
dilihat sebagai suatu strategi penghormatan. Bahasa yang diasosiasikan dengan
strategi penghormatan menekankan kebebasan penutur dan pendengar, yang ditandai
dengan kekosongan tuntutan pribadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar