BERBAHASA SECARA
KOMUNIKAT DAN SANTUN
Rangkuman
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Semester III
Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B
STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019
Berbahasa
komunikatif merupakan berbahasa yang menggunakan bahasa sesuai dengan
fungsi-fungsi komunikasi agra mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca. Bagi
penutur atau penulis agar dapat berkomunikasi dengan baik perlu mengemas
gagasan menggunakan bahasa dengan memperhatikan berbagai hal, misalnya situasi,
partisipan, tjuan, mitra komunikasi, kunci, instrumen, norma, dan ragam bahasa.
Sebaliknya, bagi pendengar ketika sedang berkomunikasi berharap penutur
menggunakan bahasa efektif agar mudah dipahami. Oleh karena itu, agar
komunikasi dapat berjalan lancar, masing-masing orang memiliki strategi
masing-masing dalam berkomunikasi. Biasanya cara berkomunikasi dilakukan
menyesuaikan kebutuhan audien.
Berbahasa
secara komunikatif bukan hanya mengajarkan bagaimana bahasa yang digunakan oleh
penutur dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan mitra tutur. Berbahasa
secara komunikatif juga memiliki beberapa fungsi, diantaranya fungsi
informatif, transaksional, interaksional, komisif, direktif, konatif, ekspresif,
regulatori, heuristik, instrumental, dan fungsi imajinatif. Untuk mencapai
fungsi komunikatif, dibutuhkan kesantunan saat berkomunikasi. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
pemakaian bahasa menjadi santun adalah intonasi, aspek nada bicara, faktor
pilihan kata, dan faktor struktur kalimat. Selain itu, terdapat faktor penentu
kesantunan dari aspek nonkebahasaan berupa pranata sosial budaya masayarakat,
topik yang dibicarakan, serta yang ada diseputar peristiwa komunikasi.
Dalam
berkomunikasi, sering kali kita tidak bisa memahami substansi dari komunikasi
tersebut. Artinya, penutur belum berhasil menyampaikan apa yang disampaikan,
atau mitra tutur yang tidak bisa memahami apa yang disampaikan oleh penutur.
Kegagalan komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya tidak adanya
informasi lama yang bisa dikolaborasikan dengan informasi baru oleh penutur,
yang tujuannya adalah agar komunikasi tampak lebih menarik. Selain itu, ada
faktor lain berupa tidak tertariknya mitra tutur terhadap informasi yang
disampaikan, mitra tutur tidak berkenan dengan cara penyampaian penutur,
substansi informasi tidak dimiliki oleh mitra tutur, mitra tututr tidak bisa
memahami apa yang disampaikan penutur, dan adanya pelanggaran kode etik oleh
mitra tutur ketika menjawab pertanyaan.
Faktor
yang menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa ditentukan oleh dua hal, yaitu
faktor kebahsaan, dan faktor non-kebahasaan. Faktor kebahasaan yang dimaksuad
adalah segala unsure yang berkaitan dengan amsalah bahasa, baik bahasa verbal
maupun bahasa non-verbal. Faktor kebahasaan verbal yang dapat menentukan kesantunan
adalah pemakaian diksi dan pemakaian gaya bahasa. Selain itu, kesanutnan juga
berkaitan dengan nosi “wajah negative” dan “wajah positif”. Wajah negative terjadi
mana kala pendengar merasa “kehilangan muka” ketika memndengar tuturan,
pembicara dapat merasa terhina atau kehilangan harga diri. Sementara itu, wajah
positif merupakan dambaan setiap orang yang gerlobat dalam komunikasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar