Kamis, 06 Desember 2018

BERBAHASA SECARA KOMUNIKATIF DAN SANTUN

BERBAHASA SECARA KOMUNIKAT DAN SANTUN

Rangkuman

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
Semester III

Dosen Pengampu: M. Bayu Firmansyah, M.Pd


Disusun oleh: Dian Wijayanti
NIM: 17188201064
Prodi: PBSI 2017B

STKIP PGRI PASURUAN 2018-2019

      Berbahasa komunikatif merupakan berbahasa yang menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi-fungsi komunikasi agra mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca. Bagi penutur atau penulis agar dapat berkomunikasi dengan baik perlu mengemas gagasan menggunakan bahasa dengan memperhatikan berbagai hal, misalnya situasi, partisipan, tjuan, mitra komunikasi, kunci, instrumen, norma, dan ragam bahasa. Sebaliknya, bagi pendengar ketika sedang berkomunikasi berharap penutur menggunakan bahasa efektif agar mudah dipahami. Oleh karena itu, agar komunikasi dapat berjalan lancar, masing-masing orang memiliki strategi masing-masing dalam berkomunikasi. Biasanya cara berkomunikasi dilakukan menyesuaikan kebutuhan audien.

       Berbahasa secara komunikatif bukan hanya mengajarkan bagaimana bahasa yang digunakan oleh penutur dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan mitra tutur. Berbahasa secara komunikatif juga memiliki beberapa fungsi, diantaranya fungsi informatif, transaksional, interaksional, komisif, direktif, konatif, ekspresif, regulatori, heuristik, instrumental, dan fungsi imajinatif. Untuk mencapai fungsi komunikatif, dibutuhkan kesantunan saat berkomunikasi.  Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemakaian bahasa menjadi santun adalah intonasi, aspek nada bicara, faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat. Selain itu, terdapat faktor penentu kesantunan dari aspek nonkebahasaan berupa pranata sosial budaya masayarakat, topik yang dibicarakan, serta yang ada diseputar peristiwa komunikasi.

       Dalam berkomunikasi, sering kali kita tidak bisa memahami substansi dari komunikasi tersebut. Artinya, penutur belum berhasil menyampaikan apa yang disampaikan, atau mitra tutur yang tidak bisa memahami apa yang disampaikan oleh penutur. Kegagalan komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya tidak adanya informasi lama yang bisa dikolaborasikan dengan informasi baru oleh penutur, yang tujuannya adalah agar komunikasi tampak lebih menarik. Selain itu, ada faktor lain berupa tidak tertariknya mitra tutur terhadap informasi yang disampaikan, mitra tutur tidak berkenan dengan cara penyampaian penutur, substansi informasi tidak dimiliki oleh mitra tutur, mitra tututr tidak bisa memahami apa yang disampaikan penutur, dan adanya pelanggaran kode etik oleh mitra tutur ketika menjawab pertanyaan.

       Faktor yang menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa ditentukan oleh dua hal, yaitu faktor kebahsaan, dan faktor non-kebahasaan. Faktor kebahasaan yang dimaksuad adalah segala unsure yang berkaitan dengan amsalah bahasa, baik bahasa verbal maupun bahasa non-verbal. Faktor kebahasaan verbal yang dapat menentukan kesantunan adalah pemakaian diksi dan pemakaian gaya bahasa. Selain itu, kesanutnan juga berkaitan dengan nosi “wajah negative” dan “wajah positif”. Wajah negative terjadi mana kala pendengar merasa “kehilangan muka” ketika memndengar tuturan, pembicara dapat merasa terhina atau kehilangan harga diri. Sementara itu, wajah positif merupakan dambaan setiap orang yang gerlobat dalam komunikasi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar