Minggu, 03 Mei 2020

APRESIASI NOVEL “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH” KARYA TERE LIYE


APRESIASI NOVEL “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH” KARYA TERE LIYE

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sastra Kontemporer
Semester VI

Dosen Pengampu:
M. Bayu Firmansyah, M.Pd




Disusun Oleh:


Dian Wijayanti
NIM. 17188201064




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PEDAGOGI DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PGI WIRANEGARA PASURUAN
2020

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
        Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Tugas Mata Kuliah Sastra Kontemporer yang berjudul : Apresiasi novel “Moga Bunda Disayang Allah” Karya Tere Liye . Sholawat serta salam penulis sampaikan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah memberikan ilahiah dalam hidup dan kehidupan manusia di dunia. Dalam penulisan laporan ini penulis telah dibantu oleh beberapa pihak, dan pada kesempatan ini izinkan penulis untuk mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak M. Bayu Firmansyah, M. Pd  selaku Dosen Mata Kuliah Sastra Kontemporer yang telah memberikan arahan kepada penulis selama menempuh perkuliahan di Universitas PGRI Wiranegara.
  2. Bapak dan Ibu dosen Universitas PGRI Wiranegara yang telah menyampaikan ilmu kepada penulis sehingga penulis memiliki bekal dalam penyusunan makalah ini.
  3. Kedua orang tua yang telah senantiasa mendoakan dan mendukung penulis guna menyelesaikan laporan tugas akhir ini. 
        Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan banyak manfaat bagi semuanya.
            Akhirnya, kepada semua pembaca makalah ini, disampaikan banyak terimakasih atas segala masukan dan saran – saran berharga untuk karya yang telah kami berikan. Semoga tuhan Yang Maha Esa mempermudah kita untuk menuntut ilmu.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.




Sidoarjo, Mei 2020


         Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………….  
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………..  
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………..  
BAB I                         PENDAHULUAN……………………………………………………….  
                                               1.1         Latar Belakang………………………………………………………  
                                               1.2         Rumusan Masalah………………………………………………….... 
                                               1.3         Tujuan Penulisan…………………………………………………….. 
BAB II            KAJIAN PUSTAKA……………………………………..……………….
                                               2.1         Sastra……..………………………………………………………… 
                                               2.2         Definisi Sastra………….……..……..………………………………
                                               2.3         Pengertian Novel ……………………….…………………………..
                                               2.4         Pengertian Novel Kontemporer…………………………………….
BAB III          PEMBAHASAN………………………………………………………….
                                               3.1         Fakta Cerita………………………………………………………..
                                 3.1.1 Tema………………………………………………………..
                                 3.1.2 Alur/Plot…………………………………………………..
                                 3.1.3 Tokoh dan Penokohan………………………………………
                                 3.1.4 Latar/Setting………………………………………………….
                                 3.15 Sudut Pandang…………………………………………………
                                 3.1.6 Gaya Bahasa/Majas…………………………………………..
                                 3.1.7 Amanat………………………………………………………….           
                       
                                               3.2         Nilai-Nilai Kehudupan……………………………………………..
                                 3.2.1 Nilai Kesabaran…………………………………………………..
                                 3.2.2 Nilai Religius………………………………………………….
                                 3.2.3 Nilai Tolong-Menolong………………………………………..
                                 3.2.4 Nilai Pekerja Keras……………………………………………
                                 3.2.5 Nilai Kesetiaan…………………………………………………
                                 3.5.6 Nilai Pendidikan……………………………………………….

BAB III          PENUTUP…….…………………………………………………………...
                                               3.1         Kesimpulan…………………………………………………………...
                                               3.2         Saran………………………………………………………………….
                                               3.3          
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….




























BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
        Karya sastra tumbuh disekitar masyarakat sebagai hasil dari pemikiran pengarang serta pengaruhnya terhadap masalah sosial yang terjadi disekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Karya sastra juga dipengaruhi oleh ide-ide dan latar belakang sosial dari pengarangnya. Agar sebuah karya sastra dapat dipahami secara jelas tidak cukup hanya dengan menganalisis unsur intrinsik dalam sebuah karya sastranya saja. Karena unsur-unsur yang terdapat didalam karya sastra tidak cukup untuk mewakili makna karya sastra secara menyeluruh. Karya sastra dapat berupa puisi, prosa, dan prosa liris. Karya sastra yang berbentuk prosa misalnya seperti cerpen dan novel. Jadi novel merupakan salah satu karya sastra yang berbentuk prosa.
Novel merupakan salah satu karya sastra yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Karena novel dapat mengajarkan tentang sifat-sifat manusia dari segi kehidupan yang dijalaninya. Hal tersebut dipengaruhi dengan adanya tema dan amanat dalam novel, seperti tema kemanusiaan, sosial, ketuhanan, dan lain-lain. Disamping itu faktor pribadi setiap pengarang juga dapat mempengaruhi proses lahirnya suatu karya. Misalnya seperti novel ”Moga Bunda Disayang Alloh” karya Tere Liye merupakan karya sastra yang menggarap tema universal yaitu cinta, cinta disini lebih berkaitan dengan kasih sayang yang dimiliki seorang ibu yang begitu besar kepada anaknya meskipun anaknya memiliki keterbatasan. Tere Liye dalam judulnya menggambarkan seakan-akan harapan yang dimiliki seorang anak begitu besar kepada sang pencipta untuk selalu menyayangi ibunya.
Sastra merupakan sebuah seni yang dapat menyajikan sesuatu yang menghibur dan menyenangkan. Selain itu juga memberikan pelajaran seperti pendidikan moral atau akhlak yang dapat mempengaruhi berkembangan karakter manusia. Teori sastra berfungsi untuk menjelaskan hakikat sastra, dan disini teori yang digunakan untuk menjelaskan karya sastra yaitu teiri strukturalisme. Menurut Nyoman Kutha (2008:91) strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu berdiri dengan mekanisme antar hubungannya disatu pihak antara hubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya, dilain pihak hubungan antara unsur-unsur dengan totalitasnya. Jadi berdasarkan pengertian strukturalisme merupakan analisis karya sastra berdasarkan dengan unsur-unsur yang ada didalamnya, seperti unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu seperti tema, alur, penokohan, amanat, latar, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik berupa unsur yang ada diluar karya sastra seperti latar belakang budaya, agama, dan riwayat pendidikan pengarang.

1.2 Rumusan Masalah
            1.      Apa saja fakta cerita yang ada di dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah” karya Tere Liye?
            2.      Apa saja nilai-nilai kehidupan yang ada di dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah” karya Tere Liye?

1.3 Tujuan Penulisan
            1.      Untuk mendeskripsikan fakta cerita yang ada di dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah” karya Tere Liye.
            2.      Untuk mendeskripsikan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalam novel “Moga Bunda Disayang Allah” karya Tere Liye.















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sastra
Sastra merupakan cermin/gambar mengenai kenyataan, tetapi dunia melukiskan banyak hal yang dalam kenyataan tidak pernah ada. Sastra juga merupakan cabang dari kebudayaan, ia merupakan proses kreatif seniman berupa ekspresi pengalaman jiwa mengenai kehidupan manusia dengan media tertentu menjadi karya seni. Dengan media bahasa yang estetik (indah) seniman dapat menciptakan seni sastra berupa karya sastra, seperti novel, cerpen, drama, dan lain-lain.

2.2 Definisi Satra
Definisi sastra telah banyak ditemukan oleh para pakar dengan beraneka ragam paparan dengan tujuan yang sama untuk menaruh kesimpulan yang akurat dan valid tentang apa itu sastra tentu belum ada. Walau demikian dapat membentuk ulasan tentang definisi sastra sebagai berikut : Dalam bahasa Sansekerta, sastra berasal dari kata sas dan tra. Sas berarti menggerakkan, memberi petunjuk atau instruksi. Sedangkan tra berarti alat dan sarana untuk menyampaikan gagasan. Dalam bahasa Melayu sastra diartikan tulisan. Pengertian ini kemudian ditambah dengan kata su yang berarti baik dan indah. Jadi ‘susastra’ berarti karangan yang indah dan bagus isinya. Terdapat pengertian lain tentang sastra, yaiut merupakan karya fikir yang memuat tentang perilaku kehidupan manusia yang kompleks dalam bentuk penyajian yang indah dan seni. Dikatakan demikian bahwa sebuah karya sastra sesungguhnya merupakan hasil kontemplasi kekuatan imajinasi penulisnya untuk menggambarkan sikap dan perilaku kehidupan kita dalam bentuk yang sedemikian indah agar pembaca tersentuh perasaannya untuk menghayati peristiwa yang telah ditulis oleh penyairnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan definisi sastra adalah sebagai berikut:
a. Bahasa (kata-kata gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).
b. Karya tulis yang jika dibandingkan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan, dalam isi dan ungkapannya.
c. Kitab suci Hindu; kitab ilmu pengetahuan.
d. Pustaka; kitab primbon (berisi ramalan, hitungan, dan sebagainya).
e. Tulisan; huruf.
Apa yang ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia di atas, dapat ditarik suatu persepsi bahwa sastra itu adalah kumpulan pengetahuan, petunjuk, ajaran yang dikemukakan dalam bentuk yang indah.

2.3 Pengertian Novel
Novel (Inggris : novel) merupakan bentuk karya sastra yang seligus disebut HKSI selain cerita dan ramalan. Novel berasal dari bahasa Itali, Novella (Jerman:Novelle). Secara harfiah Novella berarti “sebuah barang baru yang kecil” dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk Prosa (Abraham dalam Nurgianto,2007 : 9). Menurut Nurgiato (2007 : 11) novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu lebih banyak, lebih rinci, lebih detail dan lebih kompleks. Kelebihan novel yang khas adalah kemampuannya menyampaikan permasalahan yang kompleks secara penuh, mengkreasikan sebuah dunia yang “jadi”. Novel juga lebih mengacu kepada realitas yang lebih tinggi dan psikologis yang lebih mendalam.
Goldman mengidentifikasikan novel sebagai cerita tentang suatu pencarian yang terdagrasi akan nilai-nilai yang otentik yang dilakukan oleh seorang hero yang problematik dalam sebuah dunia yang juga mengorganisasikan dunia novel, secara keseluruhan meskipun hanya secara implisit. Sedangkan degradasi adalah suatu keadaan yang bersangkutan dengan adanya perpecahan yang tidak terjembatani antara hero dengan dunia. Jadi novel adalah sebuah hasil karya sastra yang mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu lebih banyak, lebih rinci, lebih detail dan lebih kompleks, serta menyampaikan permasalah yang kompleks secara  penuh, kreatif dan mengkritisi dalam dunia nyata. Menurut Jean Piaget, pengertian struktur mengandung tiga gagasan pokok, yaitu (1) gagasan keseluruhan (Wholeness) dalam arti bahwa masing-masing unsure menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsic yang menentukan, baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya sehingga menjadi koherensi internail, (2) gagasan transpormasi (transformation) yaitu struktur itu tidak statis tetapi terdapat transpormasi yang terus menerus sehingga memungkinkan munculnya bentuk-bentuk baru, (3) gagasan mandiri (self regulation) yaitu tidak memerlukan ha lain di luar dirinya.
Unsure-unsur intrinsik novel terdiri atas (a) tema, (b) fakta cerita, (c) sarana cerita. Tema adalah dasar cerita, gagasan dasar umum sebuah karya novel yang telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita. Dengan demikian pemilihan berbagai undur instrik hendaknya diusahakn mencerminkan gagasan dasar umum (tema) tersebut.[4] Gaya bahasa (style) adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan. Gaya bahasa pada hakekatnya merupakan teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan.
Menuru Abrams (1981), unsure style terdiri dari fonologi, sintaksis, leksikal retorika. Di pihak lain, Leech and Short (dalam Nurgianto, 1995) mengemukakan unsure style terdiri dari leksikal (diksi), gramatikal (struktur kalimat) pemajasan (gaya bahasa kiasan), penyiasatan struktur (repetisi, paralelisme, anaphora pertanyaan retoris) dan pencitraan (imagery) yaitu kumpulan cerita yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang dipergunakan dalam karya sastra.
Adapun tokoh cerita menurut Abrams (1981) adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif. Penokohan menunjuk pada sifat dan sikap dan kualitas pribadi seorang tokoh. Ditinjau dari tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita tokoh dibedakan menjadi tokoh utama (central character main character) dan tokoh tambahan (peripheral character). Ditinjau dari perannya, tokoh dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh protagonist (yang dikagumi) dan tokoh antagonis (yang dibenci). Sarana cerita meliputi sudut pandang penceritaan dan gaya bahasa. Sudut pandang (point of view) merupakan cara, strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.

2.4 Satra Kontemporer
Dalam Kamus Istilah Sastra, Teeuw A. (1983) menuliskan, novel adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang, dan mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan.
Pengertian novel kontemporer secara sederhana yakni novel yang hidup pada masa kini atau novel yang hidup pada waktu yang sama, novel yang berusaha bergerak mendahului keadaan zamannya (Salam, 2000). Sedangkan pengertian novel kontemporer secara luas yakni novel yang menyimpang dari semua sistem penulisan fiksi yang ada selama ini atau yang bersifat konvensional , novel yang menggarap masalah fiksi dan batin dengan pola yang aneh tetapi suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.
Berdasarkan dua pengertian novel kontemporer di atas, maka novel Indonesia kontemporer adalah novel Indonesia yang bentuknya menyimpang dari sistem penulisan fiksi di Indonesia selama ini dan yang menggarap masalah fiksi dan batin manusia Indonesia dengan pola yang aneh tetapi dengan suasana dan imaji yang sangat menakjubkan.



























BAB III
PEMBAHADSAN

3.1 FAKTA CERITA
1.      Tema
            Tema yang terdapat pada novel Moga Bunda Disayang Allah adalah kehilangan indera penglihatan dna pendnegaran tidak lantas menjadikan seseorang itu lemah, berusaha adalah kunci keberhasilannya. Awalnya Melati adalah seorang anak yang normal, sangat menggemaskan, lucu, sama periangnya dengan anak-anak yang baru berusia 3 tahun. Tuhan berkehendak lain, Melati harus mengalami kebuataan dam lebih paranhya lagi ia juga harus kehilangan indera pendengarannya hingga ia berusia 6 tahun. 3 tahun yang di jalani olah Melati dalam kegelapan, kesunyian membuat aksesnya keduania sekitar terputus.

2.      Plot
Jika ditinjau dari segi penyusunan cerita atau bagian-bagian yang membentuknya, novel “Moga Bunda Disayangi Alloh” termasuk kedalam kategoi novel beplot progresif. Pada awal bagian (keeping pertama) penulis bereksposisi tentang 2 tokoh sebagai dalang yang mengelola alur cerita. Tokoh dalang dimainkan oleh dua orang, yaitu Melati dan Bunda. Tokoh ini merupakan pengejawantahan dari pengerang.
Penampilan kedua dalang ini merupakan personifikasi dari ide dan proses dialogis pengetahuan empirisnya yang menjadi sumber inspirasi Tere Liye untuk menciptakan karya sastra ini. Pada keeping berikutnya, Tere Liye berupaya memperkenalkan tokoh-tokoh sentral. Tokoh-tokoh tersebut memiliki banyak peran di dalam cerita, diantara tokoh yang sangat sentral yaitu pemuda berusia 27 tahun yang bernama Karang.
Bagian awal merupakan awal cerita. Awal dari segala pengisahan dengan menampilkan Bunda (nyonya HK) dengananknya Melati yang mengidap tunawicara dan kebutaan. Kedua tokoh tersebut yang membangun kisah-kisah. Kisah pertemuan kedua tokoh utama (Bunda dan Melati) diceritakan pada keeping ke 2.
Dari proses pertemuan itu muncul keinginan Bunda untuk menyembukan penyakit anak sematawayangnya, Melati. Ia berusaha keras mencari penyembuhan demi ksembuhan anaknya. Hingga akhirnya pilihan terakhirnya jatuh pada seorang anak pemuda yang yang dekil dan tukang pmabuk yang diharapkan mampu menyembuhkan ankanya. Kisah inilah sebagai titik tolaj terjadinya konflik yang dibangun Tere Liye.
“Anakku, seseorang yang menyebut dirimu bagai malaikat di mata anak-anak… Kehadiranmu selalu membuat mereka bersennadung riang, kehadiran yang bisa mneciptakan ‘keajaiban’.. Meski amat malumnegakuinya, harus kami hilang, kami sudah sangat berputus asa.. Berputus aas atas keterbatasan putri tunggal kami. Maukah kau berkenan membantu? Membagi keajaiban itu. Kami mohon dengan segala kerendahan hati.” (hal.75)
Konflik yang ditampilkan Tere Liye adalah jenis psychological conflic. Konflik batin dari masing-masing tokoh cerita karena memiliki prespektif yang berbeda, tidak sedikit pula yang bertentangan sebgaaimana mestinya. Terutama yang terjadi pada tokoh Melati yang memiliki keterbatasan, sehingga kerap kali ia mengalami konflik dengan dirinya sendiri. Selain itu, ada konflik batin dari tokoh Karang tentang masa lalunya yang hingga kini masih menyimpan trauma yang teramat pedih hingga sulit untuk disembuhkan.  
Klimaks dari kisah ini mneimbulkan komplikasi kepada tokoh tambahan, pak HK ayah Melati. Ia yang mulanya menentang anaknya disembuhkan oleh pemuda pemabuk yang hidupnya bernatakan, juga adanya penolakan dari pemuda tersebut untuk membantu menyembuhkan Melati dikarenakan ada trauma dengan masa lalunya yang masih belum bisa ia sembuhkan. Sampai akhirnya tuan HK bersedia nakanya disembuhkan oleh Karang dan Karangpun bersedia untuk mneyembhkan anaknya.
Titik penyelesaian konflik batin berakhir pada proses penyembuhan Karang yang diberikan kepada Melati pelan-pelan mulai mnedapatkan hasil. Melati mulai mampu melihat benda-bend ayang ada disekitarnya, Ia tak lagi brutal dengan dirinya sendiri. Ia mulai mampu beradaptasi dnegan dirinya dan mampu mengendlaikan dirinya sendiri.
“Seminggu terakhir kemajuannya snagat mengagumkan. Melati bahkan bisa memakai baju sendiri, pergi ke kamar mandi sendiri, mengambil mangko maknannya snediri, menyendok supjagungnya sneidiri. Ia memksa melakukannya senidiri.” (hal. 344)
Plot berakhir pada suatu pemecahan bahw akanak-kanak brumur enam tahun, kanak-kanak yang buta, tuli seklaigus bisu itu. Kanak-kanank yang seolah-olah dunia terputus darinya, baru saja mengatakan kalimat indah “Bunda met bobo juga.. Moga Bunda disayang Allah..”

Dapat dismpulkan bahwa jenis plot bahwa jenis plot yang digunakna; jika ditinjau dari:
 a.      Penyusunan, beplot kronologis divariasikan dnegan laur regresif.
b.      Kwantitasnya, plot jamak.
 c.      Kwalitasnya, plot longgar.
d.      Akhir cerita, plot terbuka.

3.      Tokoh dan Penokohan
1)      Melati
Melati merupakan tokoh utama dalam novel Moga Bunda Disayang Allah. Ia adalah sosok anak yang periang, lucu, dan suka bercanda. Disebabkan Melati kehilangan indera penglihatan dan pendengarannya, maka aksesnya dengan dunia sekitar pun harus terputus, hal tersebut membuat Melati terlihat seperti menjadi keras kepala. Berikut disajikan petikan yang menggambarkan watak Melati:,
·   Watak periang, lucu dan suka bercanda
“Bunda, bangun! Sudah pagi…” Melati berseru sambil melompat riang ke atas rangjang ukurang king-size. Tertawa” (hal. 4)

 “Bunda, bangun! Bunda Kesaingan, nih!” Jahil! Melati menarik selimut bundanya. Berteriak lagi. Merangkak lebih dekat. Mengeluarkan sehelai bulu ayam (yang diperoleh kemaren dari Mang Jeje, tukang kebun). Jahhil!” (hal. 5) 

“Bunda, mikir apa? Melati  menyeringai. Memutus lamunan.” (hal. 6)
·      Watak keras kepala
“BA….BAAA…..MAAA” Berteriak lagi. Melati memukul-mukul meja dekat ranjang. Menarik ganggang telepon. Melemparnya sembarangan. Rambut ikalnya bergoyang-goyang. Baju tidurnya berantakan. Tangannya seperti moncong tapir yang mencari-cari semut di dalam lubang pohon, bergerak-gerak, menjalar tidak terkendali.” (hal. 14)
2)      Bunda
Bunda adalah soosk yang menjadi ibu dari Melati. Tokoh Bunda sanhgat keibuan. Ia merawat Melati dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Tokoh Bunda adalah salah satu tokoh dominan, dan merupakan tokoh protagonist yang sangat sabar, tabah, penyayang, dan tulus.
Awalanya anaknya seorang putrid yang ceria dan manja semnejak tiga tahun lalu, saat bermain ditepi pantai anaknya terkena piringan terbang dan hilang smeua kecerian itu. Sejak mengetahui kalau anaknya caccat tital perasaannya sangat sedih. Bunda selalu sabar menghadapi anaknya yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Bunda selalu berjuang dmei kesembuhan ankanya. Bunda juga juga tak henti-hentinya berdoa kepada Allah agar ankanya bisa sembuh. Dari dokter biasa sampai dokter ahli sudah ia datangkan untuk mneyembuhkan anaknya. Tapi, tidak juga berhasil. Bunda hanya mendaoatkan perkataan yang tidak menyenangkan dari dokter dan orang-ornag ahli,  mereka mengatakan kalau anaknya gila. Mendengar kata-kata itu pastinya sangat menyakitkan perasaannya. Ia tak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi.
Akhirnya Karang datang kerumah Bunda HK, dia ingin mencoba membantu Melati. Namun belum juga ada hasilnya. Tapi, kesabaran manusia juga ada batasnya. Itukah yang dialami oleh Bunda HK. Ia sudah putus asa karena puterinya tak kunjung ada perubahan. Bunda HK pasrah dnegan takdir yang telah diberikan kepadanya.
“Berjuanglah, Anakku! Bunda mohon. Jnagan menyerah! Bunda berbisisk senyap. Ttertunduk.” (hal. 83)

“Kau mungkin benar, Anakku. Janji-janji itu juga mungkin benar…tapi aku sudah amat lelah..sudah amat penat…setiap malam bersimpuh, berharap, emngirimkan beribu kata doa, tapi tetap tak kunjung ada kabar baiknya. Mungkin semua memang harus berakhir seperti ini..” (hal.170)

3)      Karang
Berdasarkan data yang diperoleh, salah satu tokoh yang juga dominan adalah tokoh Karang. Karang adalah totkoh yang kasar, tokoh yang keras, tokoh yang atngguh, tokoh yang jorok, tokoh yang paling dibenci Tuan HK. Seornag pemuda yatim piatu dan miskin.
Dulu Karang mempunyai taman bacaan untuk anak-anak yang gemar membaca. Ketika Karang dan anak-anak muridnya berlibur, akapl yang mereka tumpangi karam dan 18 anak muridnya meninggal. Sejak kejadian itulah Karang lebih suka menyendiri, tidak suka mengurus badan dan suka mabuk-mabukan. Dia sangat jorok, sikapnya juga sangat kasar, keras dan suka semaunya sendiri. Awalnya dia tidak mau membantu Melati, tetapi entah kenapa dia berubah pikiran akhirnya Karang datang ke kediaman Tuan HK dan Bunda HK. Karang sangat kasar membantu Melati. Tapi disi lain dia memiliki sifat yang tangguh. Meskipun ia dibenci, dihina Tuan HK dan diusir dari rmah mereka, dia memohon waktu 21 hari kepada Bunda HK.Dia yakin kalau dia bisa membantu Melati, dia tetap bertahan dan tetap ingin membantu. Jika did alam waktu 21 hari tiidak juga ada perubahan dari Melati dia yang akan pergi sendiri dari rumah itu. Memang jelek fisiknya tapi mulia hatinya.
“Benarlah. Jika kalian sedang bersedih, jika kalian sedang terpagut masa lalu menyakitkan, penuh penyesalan seumur hidup, salah satu obatnya adalah dengan menyadari masih banayk orang lain yang tidak lebih bevuntung disbanding kita. Itu akan memberikan pengertian bahwa hidup ini belum berakhiar. Itu akan membuat kita selalu meyakini setiap satu makhluk berhak atas satu tujuan.” (hal.172)

4)      Kinasih
Kinasih adalah tookoh yang jarang muncul di dalam citraan namun memiliki peran yang besar dalam mengubah sosok Karang. Kinasih diganbarkan sebagai sosok gadis yang ramah, lemah lembut, dan penyayang. Dia selalu menyayangi Bunda HK agar tidak mudah menyerah menghadapi keterbatasan Melati. Dia juga yakin kalau Melati bisa disembuhkan.
“Melati akan baik-baik saja, Bun..jika Bunda tetap yakin, maka ia pasti  akan baik-baik sja.” Kinasih berbisik pelan. Tersenyum. Memotong cerita dua hari lalu. Mencoba membesarkan hati.”

5)      Salamah
Salamah adalah salah satu tokoh yang juga selalu  muncul dalam cerita. Sosok Salamah digambarkan sebagai seorang pembantu yang setia terhadap majikannya. Ia sangat menyayangi keluarga HK. Salamah yang  memiliki watak protagonist juga digambarkan sebagai seorang pembantu yang pelupa, namun sangat cekatan dalam bejerja.


6)      Tuan HK
Berdasarkan hasil analisis novel Moga Bunda Disayang Allah. diperoleh data sosok Tuan HK yang meruapakan ayah dari Melati. Ia adalah sosok yang snagat menyayangi keluarganya, tegas, pekerja keras, dan juga pengusaha sukses.

7)      Ibu-ibu Gendut
Berdasarkan data yang diperoleh, Iby-ibu Gendut adalah sosok yang telah membesarkan Kaang. Karang selalu diajarkan oleh suaminya yang membuka rumah singgah. Sosoknya diganbarkan sebagai seoarang yang snagat lembut, penuh kaish sayang, dan penyeabar. Ia juga berperan pentung dalam mengubah sifat dan sikap Karang.

8)      Suster Tya
Sudter Tya adalah tokoh yang emnjadi perawat Melati sebelum Melati bertemu dnegan Karang. Ia hanya seklai muncul did lama cerita. Sosoknya diganbarkan masih ragu-ragu dlaam menjaga Melati, dan belum paham benar apa hal yang paling tidak disukai oleh Melati.
“Ibu-ibu Gendut tertawa pelan, “tidak. Kau bukan orang lian bagiku Karang!” (hal.59)

“Ibu-ibu Gendut menelan ludah, berkata pelan, “Kau tahu, anak yang memrlukan bantuanmu, Karnag. Surat itu bilang, Mereka membutuhkanmu.” (hal.6)

4.      Setting/Latar
1)      Tempat:
Dalam novel Moga “Moga Bunda Disayang Allah” secara umum menceritakan kehidupan sebuah kota yang sangat padat yang berdekatan dengan pantai.  Pemilihan setting ini secara teknis bertujuan untuk mengeokohkam imaji novel itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa penentuan latar berkaitan secara fungsional denagn para tokoh cerita.
Barangkali sulit untuk menemukan tempat yang eksotis seperti rumah mewah, apavteman kantor perusahaan multi nasional di kota dekat pantai yang notabenpenduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan. Serta lingkungan yang memungkinkan para tokoh cerita melakukan aktivitasnya.
Hal itupun tidak mutlak, sebab mamsih terkandung juga latar tempat bertipe netral seperti rumah, gang-gang sempit di pemukiman, pelabuhan, pabrik, toko lelang ikan, laut, dan tempat lain yang tidak  memiliki kaitan, hanya menjelaskan tempat mana peristiwa itu berlangsung.
2)      Latar Waktu
Kisah yang ditampilkan pada novel “Moga Bunda Disayang Allah” berlangsung dlaam kurun waktu yang tidak runtut. Setting waktu digunakan secara bervariasi dan bergantian secara sinergis.
“Sayang sejak tiga tahun terakhir, sisa-sisa kecantikan masa muda Bunda terhapus oleh getirnya kenyataan. Rambutnya memutih. Satu dua malah lebih cepat tereliminasi oleh kurangnya kriman sms eh perawatan, ding, alias rontok.” (hlal.8)
Kutipan diatas merupakan penentuan waktu mundurdalam menceritakan salah satu tokoh yang bertujuan untuk menjelaskan latar belakang perilaku tokoh cerita. Hal ini bukan berbicara masalah plot, namun berkaitan dengan penetapan latar waktu secara difus dan fragmentesis.
“Langit kelam. Petir menyambar. Ombak bergelombang susul-menyusul menghantam perahu nelayan kapasitas empat puluh orang itu. Sialnya angin yang menderu-deru membuat semakin kelam dan tegang suasana.” (hal. 22)
3)      Latar Sosial Budaya
Kehidupan kota pada novel ini yang memiliki kompleksitas tinggi pada penghuninya. Mulai dari kehidupan nelayan yang penuh perjuangan dan usaha keras ketika melaut, suasana kota yang nyaman, dan suasana kota yang indah nan elok karena berdekatan dengan pantai. Hal ini seperti yang dituangkan oleh penulias pada prolog cerita.
“Apalagi hendak diucap, kota ini elok nian di pelupuk mata. Begitu indah ketika semburat matahari muncul dikejauhan horizon cakrawala. Membuat jingga hamparan laut yang beriak tenang. Burung cemr melemhking mengisi senyapnya udara pagi. Ombak pelang menggulungbibir pantai. Buih membasuh butiran pasir yang halus bagai es krim saat diinjak.” (hal.3)

“Kota ini tidak kecil, juga tidak besar. Satu diantara belasan kota khas pelabuhan pesisir selatan yang nyaman.” (hal. 4)

5.      Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan penulis pada novel “Moga Bunda Disayang Allah” adalah suudut pandang orang ketia serba tahu. Hal ini dikarenakan penulis memposisikan diri sebagi penulis cerita atau tidak terlibat langsung dalam cerita. Dikatakan serba tahu karena daam novel tersebut menceritakan kehidupan Melati selaku tokoh utama dari lahir hingga dari kehidupannya yang mendapat keajaiban berupa kondisi tubuh yang seperti semula. Untuk memeperkuat data, bisa dilihat pada kutipan berikut.
“Ibu-ibu gendut itu berduri…Hanya memperhatikan” (hal.21)
6.      Diksi dan Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah alat utama pengarang untuk melu(kiskan, menggambarkan, dan menghidupkan cerita secara estetika (Rustamaji dalam Koasih, 2003: 257).          Secara umum, novel “Moga Bunda Disayang Allah” menggunakan gaya bahasa atau diksi yang dpaat diklasifikasikan sebagai berikut.
1)      Parabola
Bisa dilihat pada kutipan berikut.
“Mungkin kutunya sudah beranak-pinak lima generasi.” (hal.11)
2)      Mtafora
Majas atau gaya bahasa metafora pada novel “Moga Bunda Disayang Allah” dapat dilihat melalui salah satu contoh kutipan berikut.
“Rambut ikal Melati mengombak. Pipinya tembam macam donat. Bola matanya hitam-legam seperti biji buah leci. Dan giginya kecil-kecil bak gigi kelinci.” (hal.4)
3)      Personifikasi
Burung gelatik tetap asyik bercengkrama di hamparan rumput taman.”(hal.108)
7.      Amanat
Amanat yang terkandung pada novel tersebut, dapat dibedakan menjadi tiga segmen sebagai berikut.
1)      Tersirat
Setiap orang pasti punya kekurangan . Jangan sampai kekurnagan itu menjadikan kita  berputus asa. Terus bersaha dan jangan mneyerah, selama kita mau berusaha pasti disitu ada jalan.
2)      Tersurat
Kita harus bersabar dan terus berdoa agar yang kita inginkan akan dikabulkan.
3)      Cintailah anak-anak. Bukan karena mereka terlihat menggemaskan, tapi karena menyadari janji kehhidupan yang lebih baik setelah tergenggam di tangan anak-anak.

3.2. Nilai-Nilai Kehidupan
1.      Nilai Kesabaran
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye ini nilai kesabaran terdapat pada tokoh Bunda HK. Dengan berbagai upaya telah Bunda lakukan untuk kesembuhan Melati, baik mengikuti pengobatan berbagai dokter maupun ahli terapi lainnya namun belum juga ada kemjauan dari Melati. Meskipun belum ada kemajuan dari Melati. Meskipun belum ada kemajuan dari Melati, Bunda terus berjuang dan tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan anaknya. Setiap hari Bunda HK selalu sabar menghadapi anaknya yang setiap kali disuruh makan, Melati hanya mengacak-acak makanannya dan membanting semuanya.
2.      Nilai Religius
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah ini nilai religius terdapat pada tokoh Bunda HK. Setiap malam Bunda sellau berdoa memohon kepada yang Maha Esa untuk kesembuhan Melati anak semata wayangnya agar bisa merasakan kebahagiaan seperti anak lain rasakan.
3.      Nilai Tolong-Menolong
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye ini nilai tolong-menolong terdapat pada tokoh Karang. Akhirnya Karang mau menolong Melati yang buta, tuli, dan bisu. Karang selalu berusaha membantu  Melati agar dia bisa merasakan kebehagaian yang anaik lain rasakan. Karang memhon dan  meminta waktu 21 hari kepada Bunda agar dia bisa membantu  Melati. Karang berjanji dia akan berubah menjadi lebih baik lagi, tidak ada kekerasan dan minuman keras lagi. Kalau selama 21 hari Melati belum juga ada perubahan, Karang sendiri yang akan pergi dari rumah itu.
4.      Nilai Pekerja Keras
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye ini nilai pekerja keras terdapat pada tokoh Tuan HK. Tuan HK selelu berpergian keluar kota untuk bekerja. Sampai-sampai Tuan HK kurang memperhatikan keadaan anaknya. Setiap sebulan sekali Tuan HHK selalu keluar kota bahkan keluar negeri.
5.      Nilai Kesetiaan
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye ini nilai kesetiaan terdapat pada tokoh Salamah pembantu Tuan HK dan Bunda HK. Salamah sangat setia terhadap keluarga Tuan HK, sampai-sampai dia tidak memikirkan untuk menikah. Dia hanya ingin bersama keluarga Tuan HK.
6.      Nilai Pendidikan
Dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye nilai pendidikan terdapat pada tokoh Kinasih dan Karang.
Kinasih orangnya pintar, dan dia menjadi dokter seperti ayahnya, sedangkan Karang seorang anak yatim piatu yang diangkat oleh sepasang suami istri yang mempunyai taman bacaan. Karang tumbuh menjadi anak yang sangat membanggakan. Dia melanjutkan pendidikannya keluar ibukota.

D. Nilai Kehidupan yang Terkandung dalam Novel Moga Bunda Disayang Allah
Niali kehiudpan yang terkandung dalam novel Moga Bnda Disayang Allah dengan kegigihan yang dimiliki oleh Bunda dalam memperjuangkan kesembuhan Melati. Tuan HK yang kurang peduli terhadap Melati. Dengan melakukan berbagai uapaya penyembuhan, baik mengikuti dokter maupun ahli terapi lainnya. Hal ini mnagajarkan nilai-nilai perjuangan dalam menjalani pengobatan untuk terus berusaha dan berjuang dalam menjalani pengpbatan, meskipun hasilnya belum memadai namun Bunda HK terus berjuang dan dusahakan untuk penyembuhan. Akhirnya Kinasih menyarankan Bunda untuk mendatangkan guru privat, yaitu Karang. Bunda berharap Karang bisa menyembuhkan Melati.
Awalnya Karang menolak permohonan Bunda, tapi akhirnya Karang berubah pikiran dia mau membantu Melati. Melati selalu saja  memberontak dan menolak untuk diajari. Karang sangat kasar dan ternyata juga pemabuk. Melihat Karnag yang kasar dan ternyata juga pemabuk, Tuan HK  agamengusir Karang. Tapi Karang tidak inigin pergi, dia ingin tetap membantu Melati. Karang memohon agar dikasih waktu 21 hari kepada Bunda agar bisa membantu Melati. Karang berjanji dia akan berubah memnjadi lebih baik lagi, tidak ada kekerasan dan minum keras lagi. Kalau selama 21 hari Melati belum ada perubahan, Karnag sendri yang akan pergi dari rumah itu. Pada awalnya Karang kesulitan untuk mengajari Melati. Karena itu Karnag mencaru cara untuk dapat berkomunikasi dengan Melati. Tidaks sengaja Karang melihat Melati sedang bermain air di halamn rumah, dan disitulah Karang pun tahu kalau Melati bisa merasakan sesuatu melalui telapak tangannya. Dengan cara tersebut, akhirnya Karang bisa membantu Melati menghubungkan kedunianya lagi. Akhirnya Melati dapat pulih, bahkan anak yang bisu, tuli dan buta dan dianggap gila itu bisa mendoakan ibunya “met bobo Bunda…Moga Bunda Disayang Allah” sebuah doa yang tidak terduga.






















BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Melati yang ceria ba-tiba bisu, tuli, dan buta akibat terkena piringan tarbang. Melati menjadi anakyang frustasidan pemberontak. Bunda HK berjuang untuk kesembuhan ananknya. Suatu ketika Bunda sampai merasa putus asa. Dalam keputus asan itu ada yang menyarankan untuk meminta bantuan  Karang. Karang semula menolak yang alasannya dokter saja tidak bisa mneyembuhkakn apalagi dia. Tapi Karang berubah pikiran, ia mengabulkan permintaan Bunda HK yang tidak menyukai Karang karena pemabuk, jorok, kasar. Tapi Karang memohon bahkan sampai seperti mengemis agar diberi waktu demi kesembuhan Melati. Akhirnya Melati dapat pulih kembali.

4.2 Saran
1.      Novel Moga Bunda Disayang Allah dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti lain untuk melanjutkan penelitian yang lebih dikembangkan khususnya nilai kehidupan karen anovel ini banyak mengandung nilai-nilai kehidupan.
2.      Bagi para penulis hendaknya sellau memasukkan nilai-nilai kehidupan yang bermamnfaat agar karyanya tidak hanya berguna sebagai hiburan saja namun juga dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi.
3.      Bagi pembaca, novel sangat disarankan karena banyak menceritakan kehidupan soaial dan banyak memberikan nilai-nilai kehidupan.









DAFTAR ISI

Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Harcourt, Brace 7 World, Inc.
Liye, Ter. 2006. Moga Bunda Disayang Allah. Jakarta Selatan: Republika Penerbit University Press.
Nurgiyanto, Burhan.1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Salam. 2000. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.
Teeuw a. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar